Saturday, January 9, 2010

(bukan) Resensi 20 CEO Idaman 2009

Sebuah analogi

Tidak ada yang salah dengan perusahaan keluarga. Karena konglomerasi besar didunia ini berasal dari perusahaan keluarga. Sah dan wajar. Asalkan dikelola secara profesional, itu yang di katakan Chandra Ciputra president PT Ciputra Development Tbk. Tantangan terberat saat ini adalah mencari profesioanal yang bagus. Karena merekalah yang diandalkan untuk mengerjakan beragam proyek Ciputra yang tersebar di 20 kota besar di Indonesia juga Kamboja, Vietnam, India dan China.

Sedangkan Anthony Salim Presdir PT Indofood Sukses Makmur Tbk. rela melepas BCA dan PT Indocement Tunggal Perkasa, namun tetap mempertahankan PT Indofood dan PT Bogasari pasca krisis 1998. Keputusan ini ternyata berdampak luar biasa, karena kinerja kedua perusahaan tersebut sedemikian mengkilap dan menjadi produsen mie dan terigu kelas dunia. Selanjutnya Anthony melakukan ekspansi dengan menggandeng Nestle SA yang tangguh di bidang riset dan pengembangan produksi makanan. Tak berhenti disitu Anthony mengakuisisi PT Perkebunan Lonsum yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit sehingga mampu memangkas ongkos proses produksi. Tak pelak bisnis Indofood makin terintegrasi mulai dari minyak goreng, tepung terigu, mie instan dan CPO , sehingga sehingga berdampak pada mengecilnya biaya operasional, sementara margin keuntungan makin membesar.

Sementara Agus Martowardojo yang telah berhasil membawa Bank Permata dari posisi merugi menjadi membukukan laba dalam tempo setahun. Hal ini segera menarik Sugihartono yang kala itu menjadi Meneg BUMN untuk mengembalikan Agus ke Bank Mandiri di tahun 2005, saat kondisi bank tersebut sedemikin terpuruk dengan NPL 25 % , pendapatan hanya 600 milyar dan rendahnya budaya kerja. Dan tangan midas Agus berbuah manis dan mengantar Bank Mandiri menjadi Bank beraset terbesar saat ini yang hanya ber NPL 3,8%.

Pun Emirsyah Satar berhasil menerbangkan Garuda menjadi maskapai yang sejajar dengan airways dunia.Budaya kerja tercipta apik dan menjadi panutan dari banyak perusahaan lain untuk mencirikan keindonesiaan yang mendunia.

Sedangkan Feny Djoko Susanto telah menjadi CEO Alfamart sejak berusia 25 tahun. Namun posisi itu juga tidak dengan tiba-tiba didapakannya. Diawali menjadi kepala toko selama 2 tahun kemudian dilanjutkan dengan posisi-posisi lain yang membuat Feny semakin memahami bisnis retail. Demikian pula Putri Kuswisnu Wardani yang harus memulai dari bawah bisnis Mustika Ratu rintisan ibunya.

Ada Galaila Karen yang bersiap membawa pertamina go International meski sebelumnya di ragukan kemampuannya. Stanley Setia Atmadja yang meninggalkan kursi empuk di Citicorp Indonesia dengan membidani kelahiran Adira Finance. Dan banyak tokoh insipiratif para CEO Idaman 2009 indonesia.

Yang dapat dipetik dari sekian orang tersebut antara lain:
1.Profesionalitas adalah keharusan.
2.Loyalitas bukan sekedar setia pada perusahaan yang sama bertahun-tahun , namun memberikan yang terbaik pada perusahaan tempat mengabdi.
3.Mengetahui bisnis dari hulu ke hilir memperkaya wawasan seorang leader
4.Anak perusahaan selayaknya mendukung perusahaan intinya seiring dengan efisiensi dan peningkatan margin pendapatan.
5.Budaya kerja, penghargaan atas kinerja karyawan yang merupakan aset perusahaan terbesar, training menjadi sinergi bagi keberhasilan perusahaan