Wednesday, May 11, 2016

Kangen Bapak

Bapak  ( Pak’e) adalah  pahlawan saya. Bapak yang mengajarkan saya disipilin, tanggung jawab dan percaya diri. Salah satu ajaran beliau yang saya ingat dan saya gunakan hingga kini, “ Jika sedang berbicara dengan orang lain, jangan menunduk, tatap mata lawan bicara. Karena jika menunduk berarti tidak percaya diri bahkan dianggap tidak menghargai”. Nasihat tersebut disampaikan menjelang keberangkatan saya ke lomba Matematika tingkat propinsi di Semarang, SMP kelas 2. Itu memang pertama kalinya saya ikut lomba hingga propinsi, biasanya hanya berhenti sampai tingkat kabupaten.
Bapak tidak galak, namun tegas dan disiplin. Bapak memberikan kepercayaan penuh kepada saya untuk memilih. Ketika lulus SMP beliau pernah menyampaikan agar saya meneruskan  SPK (Sekolah Perawat Kesehatan). Nyatanya ketika saya mendaftar ke SMU Negeri, beliau tetap mengiyakan. Pun ketika lulus SMU saya sudah terdaftar di Akbid (akademi kebidanan) Semarang, sekali lagi Bapak tidak melarang saat saya memilih kuliah di Jogja. Dan raut muka sumringah tak bisa disembunyikan hari itu, saat  menghadiri wisuda  sarjana saya di Graha Sabha Pramana. Alhamdulillah salah satu kebanggaan yang bisa saya berikan, saat itu.
Ketika kemudian saya bekerja, adalah kebiasaan saya pulang tiap akhir pecan, Jumat malam. Bapak dengan setia menunggu hingga lewat jam 21.00 malam. Tidak ada yang istimewa ketika saya sampai rumah dan mendapati Bapak sudah  tertidur di depan TV. Ketika menyadari saya sudah masuk pintu depan dan langsung mengunci pintu, ‘sudah pulang ?’ begitu ucap Bapak sembari mengangkat bantal dan berjalan ke dalam kamar, melanjutkan tidur.
Ritual Bapak-menunggu-saya-pulang-Jumat-malam, menjadi sangat dirindukan saat saya,kami sekeluarga kehilangan beliau. Bapak meninggal 25 November 2005 setelah dirawat di Rumah Sakit hampir 2 minggu . Tahun tersebut adalah tahun pertama saya mendapat uang gaji bulanan. Tahun pertama saya mendapat THR jelang Idul Fitri meskipun masih proporsional karena belum genap setahun bekerja. Uang THR itulah yang sebagiannya saya belikan sarung dan celana panjang untuk Bapak. Tepat  1 Syawal Bapak memilih mengenakan sarung baru dari saya untuk sholat di Masjid. Selanjutnya siang hari berganti dengan celana baru pemberian saya pula, saat akan keliling silaturahim. Kata ibu, tumben Bapak memakai sarung dan celana baru, biasanya beliau akan mengenakan sesuatu yang baru bukan pada  idul fitri hari pertama. Aah saya jadi bangga, betapa Bapak menghargai pemberian anak bungsunya yang tak seberapa.
Seminggu pasca Idul Fitri saat kerjaan kantor semakin padat, keluarga di rumah memberi kabar Bapak sakit. Saat itu hari Kamis siang dan saya berencana pulang pada Sabtu sore karena ada acara kantor di Sabtu pagi. Namun seorang teman mengingatkan saya untuk mendahulukan orang tua, karena pekerjaan bisa digantikan.
Sepuluh  hari di Rumah Sakit, Bapak dipanggil Allah Jumat , 25 November menjelang tengah malam. Kami ikhlaskan kepergian Bapak, meski rindu teramat sangat hingga kini tetap ada di hati. Hingga bulan ke tiga setelah kepergian Bapak , saya masih meneteskan air mata betapa menyesal belum banyak yang bisa saya berikan untuk Bapak. Hingga kini pun, ingin sekali mengenalkan Keenan, balita saya ke beliau. Bahwa dia punya Mbah Kakung yang luar biasa.

Sayang untuk Bapak.

1 comment: