Saturday, November 25, 2017

Belajar Menulis (lagi)

Belajar menulis dan menjaring ide (pic:pixabay)

Saat blog kembaIi hampa terjadi setelah kelas bloggingnya mbak Mira Julia kelar di Oktober dengan kejar-kejaran sebelum tutup. Waktu tujuh bulan mustinya teramat cukup untuk mengulik aneka fitur milik blogspot. Nyatanya memang kalau masih jauh dengan deadline  bawaannya nyante dan malas. Hanya semangat di awal bulan April  dan jelang akhir Oktober. Duk duk duk, endingnya blog saya masih biasa-biasa saja. Paling keren bisa buat akun .com, itu sudah yahui dah.

Akhir Oktober itu pula seorang teman lama yang dua tahun lalu pernah ikut kelas menulis, menawari untuk ikut kelas cerita anak. Dini W Tamam berhasil menjebloskan saya dalam komunitas yang super duper keren. Wonderland Creative yang digagas mbak Dini dan mbak Wulan fokus pada penulisan cerita anak keroyokan untuk dicetak oleh penerbit mayor. Kalau kelas yang saya ikuti insyaallah buku akan  terbit via Gramedia dan Elexkids. Keren kan? Bukan saya, tapi para  mentor cantik yang masih punya balita namun bisa produktif menerbitkan karya sekian belas buku.

Anggota grup Wonderland Creative terus bertambah. Iming-iming buku terbit mayor, adalah salah satu daya tariknya.  Dan itu bukan isapan jempol. Beneran! Kok bisa? Karena sebelum kelas mulai biasanya para mentor sudah kirim outline ke penerbit. Yeay, jadi saat kami berlimapuluh belajar membuat naskah, sudah kebayang format buku cerita biasa atau picture book. Cerita dan gambar adalah bagian tak terpisahkan dari naskah buku anak-anak.  Orang dewasa juga senang akan dengan buku yang colourfull, yekan?
wonderland creative, grup menulis 

Tulisan saya sukses dikritik habis oleh para mentor. Beneran tak pernah buka KBBI.Tak paham EBI. Cara penulisan huruf, awalan, akhiran, bahkan sekedar posisi tanda seru “!” saja, saya salah, hahaha. Dong! Dong! Maka saya buka lagi koleksi buku di lemari. Bukan untuk membaca ceritanya, tapi melihat cara penulisan narasi maupun dialog yang benar.

Dan saya (tetap) belum dinyatakan lulus, karena saat belajar membuat cerpen kemudian minta krisan mbak Liza Arjanto dan mbak Ayu Welirang, makin banyak salahnya. Paraaah! Sungkem kakak  J

Mengikuti kelas dan grup menulis membuat jadual harian saya bertabrakan sana-sini. Kerja sambil lirik fb. Buat laporan akhir bulan, endingnya colek teman-teman yang belum kirim naskah. Huaaaah, dan masa menegangkan berakhir sejenak setelah  empat naskah sudah berhasil setor sebelum deadline. Kemudian saya memilih jadi pembaca grup pasif dulu. Kerjaan kantor jelang akhir tahun begini makin riweuh.
Terus kapan saya cuti!

“Pantesan  kamu anteng.” Seorang teman pernah menanyakan apakah saya bosan bekerja di bidang  yang sama selama hampir tujuh tahun. “Saya memilih menikmatinya saja.” Dan si teman teramat maklum saat melihat saya (mulai) rajin ngeblog dan bergabung dengan komunitas menulis.

Maka naskah parenting enampuluhhalaman sejak tahun kemarin, nampak melambai-lambai meminta disentuh. Pun ide membuat serial TAKO, dumptruk lucu dan pintar. Terus nulis biografi salah satu bos kantor. Ahai!

 Aah ini baru sekedar cita-cita. Bagian dari memanjakan passion. Belajar dan mengerjakan hal diluar rutinitas itu, menyenangkan syekaleee!

Mari menulis, ketimbang rumpiin apakah uang makan bakal naik tahun depan?!