Monday, March 26, 2018

Satu Kata, Janu


sumber:pixabay
Air mata meleleh dari sudut mata bulat Sukma, perempuan kurus berambut sebahu itu. Tangannya melambai pelan. Bibirnya mengatup rapat. Pria berkacamata minus yang baru masuk ke dalam gerbong kereta membalas lambaian tangannya. Dia menangkupkan telunjuk dan ibu jari kedua tangannya membentuk hati dan ditempelkan ke dada.

Belum genap enam bulan pria  yang selalu memakai kaos hitam itu menemani hari-harinya, menarikan kuas di atas kain kanvas. Lukisan abstrak yang sekian tahun  menjadi kebiasaan Sukma meluapkan rasa, mulai memperlihatkan garis-garis tegas. Ada perbedaan campuran warna yang  Sukma bubuhkan dalam setiap goresan.
Pria itu itu tiba-tiba muncul dalam dunianya. Tak ada yang istimewa dengan pria itu -selain- ketenangannya saat bicara. Lembut. Setiap kata dieja sempurna menyerupai puisi yang bermakna santun.

Hingga hari ini tiba. Raungan lokomotif serasa menusuk kembali luka lama. Peristiwa lima belas tahun silam, masih mengakar jelas dalam ingatan. Dentuman keras dibarengi nyala api membakar gerbong kereta. Sukma kecil hanya bisa menangis dan menangis dalam pelukan beku ibu.

Setelah hari itu, Sukma enggan bersuara. Tak ada tangis, tawa atau cerita dari mulutnya.
Tatapan pria itu menguatkannya.
Jangan ditentang, nikmati kesakitan itu, dan kau akan semakin kuat. 

 Suara bising kereta berhasil ditiadakan dengan eratnya genggaman tangan pria berambut ikal itu. Sayangnya itu tidak lama, jeritan peluit menampar ikatan yang baru saja terjalin. Gerbong kereta melaju perlahan, perlahan dan semakin cepat.

“Ja…nu…” Lirih suara Sukma mengeja. Debar halus membuatnya merinding. Selama limabelas tahun ada bongkahan pilu yang membuatnya tak sanggup mengucapkan kata. Dan kali ini… dia bisa..Air mata semakin deras mengalir.

Sebuah pesan telepon dari Janu,  aku ingin mendengar suaramu, segera kutelpon saat sampai.

Saturday, March 24, 2018

Vonis Dokter Tidak Selalu Benar


sumber:pixabay

Menghadle pelatihan kali ini cukup menguras energi saya. Pelatihan penilaian properti sederhana yang sudah saya gagas sejak dua tahun lalu. Baru diapprove sekarang. Mahal memang. Akan tetapi investasi pendidikan kepada karyawan akan berimbas pada peningkatan kinerja. Harapannya sih gitu…
 Walau hanya duduk mendengarkan plus dapat makan dan jajan yang bikin perbaikan gizi, tetap saja saat sampai rumah rasanya lungkrah. Bahkan belajar ngaji bersama anak saja sempat ada ‘mak less’ terkantuk. Maka belum juga jam 09.00 malam, saya sudah terlelap, sementara anak masih asyik bermain. Suami? Samaaaaa….hadeuh.
Seminggu ini agak aneh, nafsu makan saya berkurang. Di kantor saya dikenal tukang makan. Iya, porsi makan siang saya banyak plus doyan ngemil. Dan –apesnya- saya tidak bisa gemuk. Ya..segitu..aja dari jaman belum menikah. Kata  teman senior, biasanya setelah punya anak, badan sedikit melebar. Jadi kalau berat badan saat gadis dan setelah punya anak, sama, berarti kurus. Itulah saya. Silakan iri! hahaha. Saat bulan puasa tiba, orang lain senang turun berat badan 2-3kg, saya  biasanya  turun hingga 4kg alias 1kg per minggu. Setelahnya saya butuh waktu lebih dari 2 bulan untuk kembali semula. Fiuuh.
Makan bakso malang, saya muat dua mangkok. Sedang makan bakso biasa plus mie dan lontong! Tapi Selasa kemarin berbeda. Semangkok bakso tidak sanggup saya masukkan semuanya ke dalam perut. Hanya separuh, ada apa? Sepertinya saya meriang. Saya cek kalender, jadual bulanan saya sudah telat 7  hari. Tapi apa iya? Karena vonis dokter menyatakan saya tidak akan bisa hamil normal. Hasil HSG akhir Januari 2018 lalu menurut dokter hanya ada dua kemungkinan, operasi laparoscopy untuk membuka sumbatan rahim atau bayi tabung.

Kisah lengkap tentang tuba falopi non patent ada disini.

Dan saya kaget saat mencoba memakai test pack seharga lima ribuan. Dua garis merah timbul! Kamis sore kembali saya lakukan uji menggunakan test pack seharga sepuluh ribuan. Hasilnya, sama! Jumat dini hari masih juga saya lakukan uji menggunakan test pack seharga tigapuluh ribuan. Dua garis merah jelas terlihat. Rasanya ingin melompat tinggi.  Namun saya tidak berani senang dulu sebelum periksa ke dokter. 
Jumat pagi jam 09.00, saya kabur ke RS dekat kantor. Saya memilih datang ke dokter pertama yang saya kunjungi enam bulan lalu saat awal program hamil. Saat itu saya diberi obat hormon untuk merangsang menambah jumlah sel telur. Tiga bulan berjalan, tidak berhasil. Saya berinisiatif pindah ke dokter lain. Dari dokter kedua, saya kembali diresepkan obat dan diminta tes HSG(hysterosalpingography)  untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada jalur rahim. Hasilnya kedua tuba falopi non patent, alias tersumbat. Vonis itu membuat saya syok.

Saya sajikan hasil HSG kepada dokter pertama, jawaban beliau sama dengan dokter kedua. Alternatifnya operasi LO atau Bayi Tabung. Selesai beliau menjelaskan, saya sampaikan tentang hasil test pack.
“Serius?” ucap bu dokter takjub. “Yuk, kita lihat! Astagaaa bener, ada kantung bayinya!” seru bu dokter cantik berhidung mancung itu.
Syukur alhamdulillah terucap berkali-kali dari mulut saya. Masyaallah. Terhitung 5 minggu. Allah Maha Baik.
Versi dokter, bisa jadi perlakuan HSG itulah yang mengobati infeksi pada sumbatan rahim. Cairan yang disemprotkan, pada beberapa kasus juga bisa berfungsi untuk memperbaiki saluran tuba falopi.
Saya memilih percaya pada kuasa Allah. Sudah dua dokter menyatakan saya tidak akan bisa hamil lagi dengan cara normal. Dengan doa, sedekah, dan ikhtiar thibunnabawi, alhamdulillah doa saya, doa kami diijabahi, hanya dalam selang waktu satu bulan. Semoga dilancarkan hingga kelahiran dan bisa menikmati tumbuh kembang anak kedua. Pasti seru! Bismillah.

Mintalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan
 (QS. Al-mu’min:60)


Saturday, March 10, 2018

Kembali ke Titik Awal




“Satu-satunya jalan dengan bayi tabung.” Begitu penjelasan dokter Sp.Og yang baru saya kenal dua bulan terakhir. Jawaban ini seperti petir ditengah mendung yang bergelanyut di akhir Januari. Benar, saat saya keluar ruangan dokter memang sedang hujan deras, sehingga suasana lebih dramatis. Apakah setelah itu saya nangis bombay? Alhamdulillah tidak. Meski jawaban dokter pasca tes HSG (hysterosalpingography) tersebut, sungguh diluar dugaan saya dan suami. Ketika saya tanyakan penyebab dari tersumbatnya kedua tuba falopi tersebut, dokter menjawab, “bisa jadi karena pijatan dukun bayi setelah melahirkan anak pertama. Karena tanpa dibantu pijatan, rahim akan kembali semula." 
Dorr! Jawaban dokter inilah yang justru membuat saya syok. Sebegitu entengnya jawaban tersebut. Sependek yang saya ingat, enam tahun lalu saya menggunakan dukun bayi hanya untuk merawat anak saya hingga 10 hari. Kenapa tidak 40 hari? Mahal! Asalkan pusar sudah lepas, sudah percaya diri lah memandikan bayi sendiri. Dan saya tidak melakukan pijat perut, hanya pijat biasa karena –ternyata- kelelahan alias badan puegel luar biasa justru setelah 2-3 hari pasca proses melahirkan normal. Saat itu saya sudah paham betul, bahwa rahim tak perlu dipijat.
 Bagi saya akan lebih masuk akal jika jawaban dokter lebih bersifat medis, misal infeksi, peradangan atau apalah namanya. Setidaknya jika ada indikasi medis, berarti ada obatnya kan? Sayangnya pak dokter menggeleng, meski kemudian tetap meresepkan antibiotik yang saya bayar setengah resep. Iya, antibiotik yang saya lupa namanya itu satu tablet Rp.15.000 dan diresepkan 25 hari. Aah saya ogah lah. Trauma aja dengan vocab antibiotik yang sering diresepkan dokter anak saat anak saya kena batuk pilek. Iih, para bapak ibu dokter yang hobinya memberi antibiotik kayaknya lulus dengan catatan deh.
Sekian hari setelah itu saya dan suami tidak membicarakan hasil HSG dan kunjungan ke dokter tersebut. Kami juga tidak membahas bagaimana dengan program hamil anak kedua ini yang intensif dilakukan enam bulan terakhir. Mungkin suami juga menjaga perasaan saya. Saya sendiri sibuk googling apasih tuba falopi non patent itu. Dari googling tersebut membawa saya tahu istilah operasi laparoscopy,yaitu operasi membuka perlengketan rahim atau saluran tuba. Berapa harganya? Tentu saja mehong, senilai tiket umroh berdua kayaknya.
Mungkin ini rasanya orang-mereka-yang belum memiliki keturunan. Sekian tahun menikah belum memiliki anak tentu bukan saja beban namun tekanan batin, apalagi jika ada acara keluarga. Duuuh beraat pasti. Dulu saya (sering) merasa kasihan kepada mereka-yang menurut saya- kurang beruntung.
Kini saya merasakan apa yang mereka rasakan. Betapa berusaha memiliki keturunan tidaklah mudah. Saya lebih beruntung karena sudah memiliki balita yang sekarang sedemikian cerewet bertanya kapan punya teman main. Alhamdulillah proses kehamilan pun cepat saat itu. Langsung jos!
Sampai pada titik saya berhenti. Saya berpikir. Secara tidak sadar bisa jadi saya telah berlaku sombong. Bahwa ada banyak kenikmatan Allah, namun cara bersyukur saya tidak kaffah. Allah sedang menguji saya dengan keinginan yang belum bertemu  takdir-Nya. Saya berusaha mengubah pola pikir yang terjadi. Demi memiliki keturunan lagi, saya ikhtiarkan rutin berkunjung ke dokter. Sayangnya saya lupa menghamba kepada-Nya. Saya alpa merayu-Nya dalam setiap doa. Sholat, puasa, sedekah masih menjadi rutinitas belaka. Saya harus kembali ke titik awal. Sebuah awal yang seharusnya dilakukan. Mendekatkan diri kepada yang Maha Hidup.  
Di sela-sela kerja awal tahun yang padat, dari sebuah artikel saya menemukan tulisan tentang pengobatan cara Rasululllah dengan bekam dan herbal sebagai salah satu solusi penyumbatan tuba falopi. Saya pun belajar tentang habbatussauda, madu dan minyak zaitun. Khasiat ketiganya tentu tidak diragukan karena disebutkan dalam Al Quran dan diriwayatkan hadist. Disaat bersamaan saya teringat seorang teman yang pernah bercerita pernah menjadi terapis bekam.
Pintu pun mulai terbuka. Ada selarik cahaya harapan baru yang terbit di dada. Si teman pun bercerita kalau sebelum memiliki keturunan, pernah mengalami masalah rahim. Terapi bekam dan herbal dilalui sampai kemudian memiliki 3 anak yang lucu-lucu.
Well, bismillah, semoga ikhtiar menurut thibunnabawi ini akan segera membuahkan hasil. Aamiin.