Sunday, May 13, 2018

Luka Hati


Ketika ada berita kerusuhan di Mako Brimob oleh sekian napi teroris, saya tak terlalu perduli. Meski kemudian, bertanya-tanya, bagaimana bisa ratusan napi teroris tanpa penjagaan maksimum. Entahlah, napi teroris ataupun terduga teroris bagi masyarakat awam seperti saya, nampak sama. Bisa jadi memang benar iya, bisa jadi juga salah.

Kejadian berlanjut dengan pengejaran terduga jaringan teroris di Cianjur, bom di tiga gereja di Surabaya, bom di Rusunawa Wonocolo, bom di Mapolresta Surabaya dalam sekian hari berturut-turur membuat saya trenyuh. Bagian paling pilu adalah ada anak-anak disana.

Saya baru memiliki satu putra laki-laki berumur enam tahun. Bagaimana mencintai anak dengan memberikan kasih sayang dan pendidikan terbaik adalah cita-cita semua orangtua, itu yang saya yakini. Sependek pengetahuan keislaman saya, susaaah sekali rasanya bisa mengerti bagaimana orangtua bisa mengajak anak-anak untuk melakukan aksi semacam itu.

"Ini hanya sakit sementara. Ini hanya sakit di dunia. Setelah ini kita akan kekal abadi di surga?Beginikah yang mereka doktrinkan pada anak-anak. Duuuh...

Saya tak paham fiqih. Ritual ibadah saya masih seputaran wajib dan sunah muakad. Mungkin itu kenapa saya tak paham dengan jalan pikiran mereka

Sekian belas tahun lalu menjelang  saya kuliah di Jogja, almarhum Bapak mengingatkan saya untuk hati-hati memilih teman. Silakan mengaji tiapi tak perlu begitu-begitu. Alhamdulillah pemahaman agam saya waktu kuliah sedikit meningkat karena ada wadah yang cukup kental di lingkungan kampus. Di sana saya mengenal bagaimana mengenakan hijab, kenapa orang bercadar, kenapa laki-laki celananya cingkrang. Ada pemahaman yang saya anut hingga kini sehingga 'berasa' lebih mudah memahami situasi 'semacam ini'.

Kembali kepada membawa anak-anak dalam "jihad" versi mereka, apalagi dibawah umur, sungguh, diluar nalar saya.

Semoga segera Allah bukakan  pintu hati yang tertutup rapat.
Semoga segera Allah bukakan pintu hati atas hidayah.
Aamiin

KEMBALI MENULIS



Setelah absen menulis lebih dari empat puluh purnama, weekend ini kembali berjibaku merangkai kata demi kata. Ececiee… Ini sebagai pertanda benar dari perkataan seorang mentor nulis bahwa ketika kita sudah menemukan waktu dan cara nulis, mensejarahkan cerita itu menjadi nikmat, bukan lagi beban (seperti dikerjar setora 1m1c). Apalagi dikerjar deadline.  Tapi sekalinya mandeg-deg. Sudah deh, mulai lagi, mualaasnyaaa… Makin pinter saja nyari alasan
Bedanya alasan kali ini cukup masuk akal. Trisemester pertama ini sungguh tidak mudah melalui hiks…hiks… Tepar pisan. Setiap sore Keenan selalu bertanya, “Bunda hari ini cape sekali apa cape sedikit?”  Dan ketika jawabannya “sedikit” dia akan tertawa lebar, karena itu berarti ada teman bermain. Kemana ayahnya? HAPE-AN dong!
Kemudian  sejak Jumat-Sabtu-Ahad ini berusaha menuntaskan:
-  satu naskah calon antologi FAKTA UNIK
- satu naskah calon antologi dongeng FABEL
- setoran grup terkeceh, 1minggu1cerita, dengan tema KEMBALI
Kali ini sunggu penuh perjuangan diantara mual, pusing, batuk, pilek, bersin-bersin….Astaga lengkap bener  penyakit musiman ini semakin membuat drama deadliner macam sayah makin ngos-ngosan. Apa kabar calon buku solo? Maret-April ini beneran off sama sekali tidak melirik. Sempat buka-buka deng kemarin,lumayan sebenarnya sudah dapat 10 cerita dari target 25 naskah. Niatnya sih, tahun ini fokus ke solo, masak antologi mulu. Nyatanya saya harus berdamai dengan perut yang semakin membuncit ini. Alesan!
Pada dasarnya ikut proyek antologi itu bagian dari mengasah kemampuan menulis dan menuangkan ide. Bagi saya tentu saja