Wednesday, June 2, 2021

5 HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN SEBELUM MEMILIH ENGLISH COURSE UNTUK BUAH HATI

Belajar bahasa asing semacam keharusan untuk anak  jaman sekarang. Tidak hanya bahasa Inggris yang wajib dikuasai, bahasa Jepang, Mandarin, Jerman, Perancis adalah beberapa bahasa asing yang menjadi favorite. Belajar bahasa asing merupakan jenis pendidikan nonformal . Berbagai platform di media sosial  yang menembus batas negara membuat kita semakin familiar dengan  ragam bahasa di muka bumi.

Saya pribadi tak terlalu mahir berbahasa Inggris, karenanya saya  memiliki keinginan kuat agar anak-anak saya harus mampu menguasai minimal 2 bahasa asing. Untuk tahap awal, bahasa Inggis adalah bahasa asing yang wajib dikuasai,  karena menjadi salah satu bahasa internasional. Namun mencari les bahasa Inggris di daerah tempat tinggal say, kabupaten Batang Jawa Tengah, nyatanya  tidak terlalu mudah. Apalagi di kondisi pandemi seperti ini.

Ada beberapa pertimbangan jenis les bahasa Inggris :

1. Kualitas pengajar

Untuk anak usia sekolah dasar, belajar adalah bermain. Maka yang dicari adalah pengajar yang  paham bagaimana mengajar anak-anak. English with fun. Belajar bahasa Inggris secara menyenangkan tidak sekedar hafalan kosakata ataupun tenses semata.

2. Kurikulum

Setiap lembaga kursus pasti memiliki kurikulum belajar yang diunggulkan. Saya pribadi lebih menekankan untuk conversation dan kekayaan vocabulary.

3. Metode belajar

Belajar sambil bermain. Bermain sambil belajar.

4. Biaya per bulan/semester

Nah ini yang penting, biaya bulanan

5.Lokasi

Faktor ini tak kalan penting bagi saya yang bekerja hingga sore hari. Memastikan anak aman di tempat les, dan siapa yang antar jemput.

 


Sunday, May 30, 2021

Kebangkitan Dunia Literasi di Era Digital





Dua pekan lalu Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) meluncurkan program Literasi Digital Nasional dengan tema “Indonesia Makin Cakap Digital” seperti dilansir kompas.com(20/5/2021). Hal ini menandai keseriusan pemerintah mendukung sepenuhnya kebangkitan dunia literasi di era digital. 

Kenapa selalu dikaitkan dengan segala macam dunia digitalisasi? Karena memang kita sedang di jaman dimana semua hal bisa dengan (mudah) jika dilakukan secara digital. Contoh paling mudah, dahulu kita mengetahui kebenaran suatu berita dari membaca koran atau menonton TV. Kalau itu kita harus berlangganan koran atau minimal membaca koran di kantor balaidesa atau rumah tetangga. Kini koran versi cetak sudah semakin berkurang oplah produksinya. Karena berita tentang apapun sudah ada dalam segenggaman tangan. 

Yes, kamu benar. Smartphone atau Handphone sudah menjelma menjadi sumber dari segala sumber rujukan bagi mereka yang malas membaca buku setebal bantal. Apapun bisa kita cari melalui melalui kedua jempol tangan. Permasalahannya adalah ketidaksabaran, kekurangtelitian dan kemalasan menyaring berita dapat berujung pada bencana. Bisa jadi kabar A benar, namun karena ada bumbu B yang belum tentu benar, maka alur cerita justru  berbelok ke arah yang tidak jelas. 

Inilah tantangan dunia literasi kita, khususnya di era digital. Bijak bermedia sosial adalah jargon yang sering didengungkan dengan semakin meluasnya hoax atau sekedar berantem di medsos.

Literasi digital, dalam KBBI V berarti kemampuan memahami informasi barbasis komputer. Lebih luas lagi literasi adalah kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu.

 Masa sekarang kita dituntut untuk bisa membedakan fakta, hoax atau opini. Ketiganya memiliki sumber yang berbeda. 

 FAKTA
 Fakta menjadi benar jika berita tersebut berdasar kondisi sebenarnya, entah suatu hal atau seseorang. Dalam dunia digital jejak tulisan maupun gambar kita akan terekam hingga kapanpun, meski sudah dihapus. Maka berpikirlah lebih dari sekali ketika akan mengunggah suatu berita di media sosial atau broadcast dalam grup pertemanan. 

HOAX
Berita bohong yang sengaja dibuat untuk menjadikannya viral. Entah dengan tujuan terkenal atau memang ketidakmampuan untuk memilah yang benar sesuai fakta atau sekedar “katanya”.

 OPINI
Opini adalah hak penulis untuk menulis sebuah fakta dari sudut pandang dirinya. Opini tidak selalu salah, namun seringkali tendesius atau adanya keberpihakan kepada satu pihak. 

Kominfo tampaknya sangat serius merayakan kebangkitan dunia literasi di era digital dengan memberikan akses seluasnya kepada masyarakat untuk memperkaya wawasan dan meningkatkan kecakapan digital. Aneka kelas disediakan antara lain videografi, public speaking, digital marketing, privasi digital, keamanan siber dll. 

Bagi yang berminat dapat langsung mengakses https://event.literasidigital.id/

Friday, May 28, 2021

5 Cara Pandang Positif terhadap Pandemi


sumber: Canva 

Pandemi belum juga berakhir meski telah belasan purnama terlewati. Jutaan jiwa melayang karena makhluk kecil bernama Virus Corona.  Ada banyak sekali pelajaran selama pandemi yang dapat kita ambil hikmahnya.

 #1 Dialah Yang Maha Kuasa

Tak ada selembar daun pun jatuh tanpa kehendakNya. Sedemikian mudah Allah membolakbalikkan segala sesuatu. Sekecil makhluk bernama Virus Corona telah melumpuhkan segala sendi kehidupan manusia.  Bisnis-bisnis besar rontok tanpa ampun. Adalah kita, yang percaya dan bersandar pada Allah-lah, menjadikan ritual ibadah menjadi semakin khusuk semata karena ketaatan diiringi ketakutan akan wabah yang mendera.

#2 Lebih Banyak Bersyukur

Setiap orang terimbas efek berantai virus mematikan ini, meski dalam kadar yang berbeda. Lihatlah sekeliling kita. Ada yang dahulu memiliki penghasilan berlebih dengan gaya hidup tinggi. Tiba-tiba harus kehilangan sekian hartanya, demi meringankan cicilan di berbagai lembaga keuangan. Bahwa menikmati setiap pencapaian kerja keras kita dengan membeli barang kesukaan adalah wajar. Namun jangan lupa untuk selalu bersyukur karena pasti ada campur tanganNya.

#3 Intropeksi

Kerugian yang terus mendera selama pandemi, membuat banyak bisnis besar mengurangi volume usahanya. Dilansir dari detikfinance(24-3-2021), awal tahun 2021 Hero dan Giant kembali menutup beberapa gerainya. Jauh sebelumnya; Matahari, Centro, dan banyak ritel lain terpaksa melakukan PHK untuk menekan pengeluaran. Tak hanya bisnis fashion yang tumbang, bisnis food beverages pun turut terkena getah pandemi. Lihatlah kerugian yang diderita Starbuck, KFC, hingga Pizza Hut. 

Dan demikianlah adanya, roda sedang berputar. Mereka yang dahulu diatas, kini sedang merasakan posisi bawah dengan grafik keuntungan yang terus merosot. Bangga memiliki bisnis besar dengan banyak gerai, kadang berbeda tipis jumawa, yang memandang sebelah mata bisnis mikro. Waktunya intropeksi melakukan diversifikasi dan terobosan usaha  agar tetap bisa bertahan hingga pandemi usai.

#3 Berani Berinovasi 

Beberapa tahun terakhir, jauh sebelum pandemi, sebenarnya kiblat fashion dan kuliner secara umum sudah bergeser. Merk-merk ternama sudah tidak menjadi trendsetter. Misalnya, untuk busana muslim, dahulu Rabbani dan Zoya adalah merk yang sangat familiar di kalangan menengah. Namun saat ini, ada banyak merk baju muslim beredar di pasaran. Hebatnya peredarannya tidak memerlukan offline store, cukup pre order diberbagai WhatsApp Group.

Pun dengan nongkrong sambil ngopi. Kini tak perlu ke gerai kopi impor di mall.  Cukup di rumah-rumah kopi lokalyang menjamur seantero kota hingga ke desa, dengan taste tak kalah delicious.

#4 Melek Teknologi

Anjuran untuk lebih banyak di rumah, memberikan dampak luar biasa dalam dunia pendidikan. Sistem Pembelajaran Jarak Jauh tidak hanya merepotkan orangtua, pun demikian para guru, khususnya untuk pendidikan dasar yaitu jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun kerepotan tersebut tidak bisa dihindari. Yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan kemampuan yang ada sembari beradaptasi dengan pelbagai platform pembelajaran. Kemendikbud telah memberikan bantuan kuota untuk para siswa, mahasiswa guru hingga dosen. Upaya ini diharapkan agar pendidikan di Indonesia tetap bisa berlangsung meski dilalukan secara daring. Walau hasilnya tidak maksimal seperti sekolah tatap muka, pada gilirannya kita musti bersahabat dengan pandemi ini.

#5 Bisnis Makin Moncer

Selain kisah sedih pelajaran selama pandemi, ada pula kisah bahagia dari pelaku usaha yang justru ketiban rezeki dari jargon dirumahsaja. Katering makanan, aneka jajanan, hingga beragam barang kebutuhan yang dijual secara online justru menampilkan trend kenaikan yang sangat signifikan.


Jadi, apapun keadaan yang kita alami, kembali pada kemampuan kita untuk segera menyelaraskan dengan kondisi yang ada. Mengeluh tak menyelesaikan masalah.  Setiap individu memiliki ceritanya masing-masing. Pengalaman yang akan terus diingat tentang sedih, tentang khawatir tentang rasa bersyukur berhasil melewati masa-masa tidak mudah ini.

Semoga, pandemi segera berlalu. Aamiin.


Wednesday, May 26, 2021

Energi Memaafkan, Bikin Wajah Makin Bersinar



sumber: canva, koleksi pribadi


Pernahkah seseorang meminta maaf padamu atas kesalahan yang dilakukannya ratusan purnama yang lalu? Seringkali dalam relasi pertemanan tidak selalu dalam jalan lurus. Kadang naik, turun, berkelok bahkan jatuh terjerembab. Pengalaman memaafkan seorang teman saat itu sungguh melegakan.

Jangan Remehkan Kekuatan Maaf

Kekuatan maaf bagi setiap individu dapat  memberikan efek yang berbeda-beda. Keberanian untuk meminta maaf dan memaafkan adalah dua hal berbeda yang tidak setiap orang memilikinya. Namun keduanya berguna untuk terapi diri sendiri atau autohealing. Dengan memaafkan atau memberi maaf, maka residu sakit hati yang bercokol akan rontok seketika. Namun  hal tersebut hanya bisa terjadi bila kita melakulannya setulus hati.

Pencarian Luka Batin

Seiring kehidupan berputar sebagian kita bisa memaklumi kekeliruan orang lain, kerabat, pasangan bahkan orangtua, baik disengaja atau tidak. Dengan kata lain, kita dapat memaafkan seketika, saat itu juga. Hal ini sebenarnya baik, karena lebih melegakan daripada membawa kekesalan sepanjang waktu. Namun yang perlu diwaspadai adalah saat kita memaafkan hanya dimulut saja, sedang batin masih terasa sakit dan sulit melepaskan. 

Pilihan ada pada diri kita sendiri. Apakah akan membawa luka batin itu sepanjang hidup dengan resiko terhantui sepanjang hayat, atau berusaha mencari bagian mana dan apa yang menyebabkan luka. 

Berhentilah sejenak, tanyakan pada hati terdalam, adakah kekesalan hingga dendam kesumat yang mungkin masih bersemayam di relung hati. 

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat, maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS Asy-Syura: 40)

Bahwa melupakan berbeda dengan memaafkan. Seperti cerita yang teman yang tetiba meminta maaf untuk kesalahan masa lalu yang sesungguhnya sudah saya lupakan. Namun alih-alih langsung memaafkan saya butuh waktu untuk bertanya pada diri sendiri, adakah remah-remah sakit hati yang tanpa sadar masih menempel.

Air mata mengalir untuk alasan tak jelas. Jadi benar, pengalaman memaafkan tersebut meringankan langkah saya selanjutnya. Rasanya lega sekali sampai suami berkomentar, tumben pagi-pagi silau melihat wajah saya. Bersinar, katanya.

 Efek samping memaafkan, digombalin!



Saturday, May 22, 2021

Kecintaan pada Buku

Apa alasan kamu membaca buku?
Kalau saya, yang pertama karena suka dan yang kedua karena butuh. Yang jelas sih bukan karena ingin gaya pegang buku setebel bantal, hehe.

Iya, sejak sekolah dasar saya sangat menikmati duduk di samping rumah sambil membaca buku cerita anak. Tentu bukan buku milik saya, melainkan pinjam dari kerabat atau tempat persewaan buku. Bagian menyenangkan dari membaca buku adalah, saya bisa leluasa berimajinasi atas narasi atau cerita yang dibuat penulis. Hal ini berbeda dengan menonton film, dimana saya sebagai penonton secara tidak langsung dipaksa untuk mematuhi alur dan plot kisah yang tersaji dalam deretan adegan. Itu kenapa saya tidak terlalu menyukai film yang diadaptasi novel. Bukan tentang kualitas filmnya, tapi detil cerita dalam film biasanya tidak presisi seperti novel. Memang tidak mudah memindahkan ratusan halaman novel menjadi adegan film dalam 90 menit saja.

Salah satu film adaptasi novel yang saya suka adalah Da Vinci Code. Kenapa? Karena saat menonton film tersebut, saya belum membaca novelnya, hahaha. Jadi tak banyak ngomel kenapa begini, kenapa begitu.

sumber: koleksi pribadi

Awal Februari 2021 saya membeli 2 buku dari marketplace. Kedua buku tersebut merupakan rekomendasi dari 2 teman berbeda.
Buku 101  Waren Buffet Wisdom berupa cerita bergambar tentang pengalaman disertai nasehat Waren Buffet dalam bertransaksi saham. Alasan saya membaca buku ini karena sedang butuh. Sudah cukup lama ingin belajar investasi saham. Tentu saja tidak ingin learning by doing. Musti belajar dulu baru nabung saham. Sama seperti 12 tahun lalu saat ingin membeli reksadana. Butuh waktu 6 purnama untuk kemudian saya berani membeli reksadana di akhir 2009.

Bagaimana dengan saham? Sudah 4 tahun baca ini itu, masih saja cemen. Sampai kemudian harga saham rontok setahun lalu, rasanya itulah momen yang tepat memulai.

Balik lagi ke komik Waren  Buffet. Merupakan buku tentang saham yang pertama saya beli, selebihnya lebih suka membaca artikel ataupun ebook.  Buku itu merupakan rangkuman dari komik duitto yang tayang di tabloid kontan. Bagian surprised-nya adalah, kartunis buku itu (ternyata) temen SMU, Tommy Thomdean.  Keren ya, teman saya, hihihi.

Untuk novel Revolt, sebenarnya menjadi harapan pelecut semangat untuk kembali rajin membaca. Sudah hampir 3 tahun energi membaca melempem seperti krupuk dalam plastik berlubang. Menguap kriuk-kriuknya. Biasalah, mamak multitasking dengan batita dan anak 9 tahun yang sedang homescholling dadakan. Menurut teman saya yang seorang jurnalis, novel terjemahan ini sangat menarik untuk dibaca tentang drama keluarga lengkap dengan bumbu kekuasaan. Lumayan berat selayaknya novel sastra terjemahan.

Kalau kamu, sedang baca buku apa pekan ini?