Thursday, September 6, 2018

Euforia Asian Games 2018


                Sesaat setelah menonton acara  Opening Ceremony Asian Games 2018  yang maha megah itu, memang berasa euforianya. Kemudian diikuti rentetan  pertandingan cabang olahraga tayang di beberapa  stasiun televisi. Meski tidak mengikuti satu persatu, setidaknya cabor sepakbola, badminton, voli dan atletik yang  menarik perhatian saya. Maksudnya, cuma cabang olah raga itu yang saya paham perhitungan skornya sehingga tahu mana yang menang mana yang kalah.  Sepak takraw? Nyerah deh, hehe…Oh iya, sempat lihat panjat dinding dan selebrasi pasangan suami-istri cabor pencak silat yang mendapat medali emas. How lucky, ya.
                Perolehan medali pun tak kalah keren dari Opening Ceremony. Dari peringkat  17 di Asian Games 2014, Indonesia melompat ke peringkat 4 dengan perolehan medali 98 buah yang terdiri dari  medali emas 32, medali perak 24 dan medali perunggu 43. Jempol empat! Nampak juga bintang-bintang olahraga baru yang menjadi trending topic seperti: 
-          Defia Rosmaniar, peraih emas pertama dari cabang Taekwondo.
-          Aprilia Santini Manganang, tim voli putri dengan kekuatan spike mematikan.
-          Anthony Sinisuka Ginting, pemain badminton yang terus bertanding walau kaki cedera.
-          Jonatan Christie alias Jojo, yang tetiba jadi model look gitu..
Nah, ketika malam Senin kemarin menonton acara closing ceremony,lagi-lagi melalui layar televisi, enggak live, beneran berasa klimaks dahsyat. Kemeriahan yang disuguhkan di acara tersebut memang tidak se-wow-opening ceremony, tapi secara keseluruhan Erick Thohir sukses menyelenggarakan even sebesar ini dengan persiapan (katanya)hanya dua tahun. Tak terbantahkan kiprah bos Inter Milan ini mah! Eits, sok teu, kenal gitu? Enggak, cuma suami penggila Inter jadi ya, berasa dekat aja ahaha.


Bagi saya closing ceremony keren juga bukan karena ada Ikon dan Suju ya, beneran, ga kenal sama sekali. Sudah lewat masa-masa Meteor Garden kapan tahun. Bila mamah muda lain penganut Kpop dan Kdrama lover, sementara saya mah cuma emak tukang masak dan cuci piring yang sudah kehabisan waktu ngobrol sama Keenan sembari belajar membaca dan mengaji. Berbeda dengan opening ceremony yang didukung dengan panggung megah, tarian yang dibawakan ribuan penari dan penampilan artis yang-sangat-Indonesia, acara closing ceremony lebih sederhana dalam hal tata panggung. Penampilan artis lebih santai tapi asyik dilihat. Atraksi kembang api, tetap dong keren sangat dah.
Asian Games 2018 sudah heboh dari mulai acara persiapan venue, moda transportasi LRT, kebijakan ganjil-genap dll. Ada-ada saja berita-berita kontroversial mulai dari acara persiapan tersebut. Bahkan hingga acara berlangsung dan acara selesai tetap saja ada cerita di linimasa.
Sebagai emak-emak penunggu rumah, sering geli saat baca atau dengar berita ini itu yang selalu disambungkan dengan pilpres dan atau politik praktis, atau apalah namanya. Grup sebelah sini belain jagoannya  dengan cara  random. Grup sebelah sana  tiada lelah mencari celah salah dan selalu berprasangka  negatif. Apa mereka tidak lelah ya? Ya enggaklah ! Mereka kan memang dibayar untuk membuat konten viral yang menggelitik untuk dikomentari yang kebenarannya diragukan.
Netizen Indonesia memang jago membuat meme dan komentar yang seringkali membuat gerah, bahkan untuk orang semacam saya yang polos tak paham utara selatan. Tapi ya itu tadi, kok yang begitu aja dikomentari ya…
Ini misalnya :
- Pencitraan, ngaku aja pakai stuntman.
- Mana mungkin ada gunung api dan air terjun di GBK, palsu semua.
- Anies mana Anies, kok tidak nampak.
- Biaya opening ceremony tak sebanding dengan bantuan ke Lombok.
……………………
Haqqul yakin saya, yang ngetweet itu orang-orang pinter dengan logika masa kini. Hal-hal semacam itu rasanya tak perlu jadi bahan diskusi nasional yang menghabiskan waktu dan energi. Maka seorang Wishnutama bisa murka saat hasil karyanya dipertanyakan. Skenario presiden tidak hadir di GBK, tapi justru nonton closing ceremony bareng TGB di Lombok, sempat membuat linimasa twitter sepi dari cercaan. Sesaat aja sih. Emang juara untuk tim yang jago cari angle berita  layak published dan diviralkan. Yes, bidang kerja yang menjanjikan hingga sekian tahun ke depan. Bytheway, itu kenapa setelah Anies Baswedan menyerahkan obor Asian Games tetiba ada Puan juga ya?


Apapun salut untuk para atlet, pelatih dan panitia. Ini luar biasa! Selanjutnya, Asian Para Games. Tidak kalah dari sebelumnya, juga melibatkan banyak atlet, 42 negara! Yuk ah semarakkan juga!



Sunday, August 19, 2018

Menghalau Galau pada Tri Semester Pertama


Kehamilan yang kedua ini membuat saya mengoreksi ulang banyak hal tentang memandang orang lain beserta kebiasaan dan cara berpikirnya. Saya (seringkali) menganggap aneh orang yang bertindak, bersikap atau berkata yang berbeda dengan saya. Aneh, begitu label yang saya sematkan kepada orang  lain tersebut. Sederhana saja misalnya, teman sebelah ruangan kalau ketawa kenceeeeng pisan plus bergulung-gulung. Apa sih, namanya untuk ketawa yang mirip suara woody woodspecker gitu. Atau temen yang superlemot ketika di minta mengerjakan suatu tugas, idiiih dulu kuliah dimana sih… Sarkasme yah!

Well kembali ke bahasan tentang kehamilan kedua ini, yang sungguh berbeda dengan delapan tahun lalu. Mungkin menjadi tidak istimewa bagi  ibuk-ibuk yang hamil hingga lebih dari empat kali. Dah hafal kali ya,  secara saya baru kali kedua, jadi cenderung membanding-bandingkan.

Baca kisah awal proses kehamilan

Pada tiga bulan pertama, saya mengalami mabuk berat. Bukan dalam hal muntah, tapi perut enek luar biasa. Selera makan turun drastis dalam 2 bulan pertama. Hasilnya, berat badan turun 2 kg! Senang? Sama sekali enggak. Saya tipikal doyan makan yang sulit gemuk. Jadi susah makan dan jadi kurus sungguh enggak banget. Walhasil tiap pulang kantor berasa tepar dan males ngapa-ngapain. Eh bukan berarti pekerjaan rumah tangga terbengkalai lo ya. Selemes-lemesnya tetaplah masak sarapan, cuci piring, nyiapin makan malam dan pekerjaan rumah tangga lain. Kecuali mencuci pakaian, itu dari lama memang tugas suami hehehe..

Yang keteteran adalah membersamai Keenan belajar. Biasanya belajar membaca, tahfidz, hingga mengaji bisa menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Namun kali itu, hanya saya sempatkan 15-20 menit. Fiuuh, ‘apa saya bakalan kuat sampai bulan kesembilan nanti’, begitu yang sering terlintas dalam pikiran saya.

Baca juga drama test HSG berikut

Alhamdulillah, memasuki bulan ketiga bertepatan dengan puasa ramadan, tubuh sudah beradaptasi dengan hormon kehamilan yang embuh itu. Hasilnya 28 dari 30 hari puasa ramadan berhasil saya selesaikan. Masya Allah, luar biasa buat saya. Allah sungguh baik. Badan tambah kurus? Ga usah tanya! Ntar habis lebaran, genjot lage…

Sunday, July 8, 2018

Khitan Anak, Kapan Usia yang Tepat?


Sejak tiga bulan terakhir saya mulai rajin browsing usia berapa yang tepat untuk mengkhitankan anak. Tak satupun saya menemukan rekomendasi pilihan usia yang tepat. Lebih pada kesiapan anak dan orang tua, simpul saya.

Semenjak lama,  saya memang merencanakan mengkhitankan anak pertama sebelum masuk sekolah dasar. Pertimbangan saya sederhana, kids jaman now semakin cepat proses baligh-nya.  Jika dahulu usia baligh kisaran usia 12 tahunan atau kelas 6 SD. Sekarang  sudah banyak anak perempuan maupun laki-laki mengalami proses balighnya pada usia 9-10 tahun.


Gayung pun bersambut saat Keenan yang masih berusia tiga tahun bertanya apa itu khitan karena menonton tayangan Upin Ipin. “Supaya tidak gatal, itu dipotong sedikit.” Ketika usia dua tahun Keenan memang kadang merasa gatal  entah karena digigit semut atau bermain tanah. Tidak parah sih, hanya rewel sesaat.

Ternyata benar bahwa tontonan televisi tersebut sangat membekas di pikirannya. Karena seringnya diputar ulang, saya cukup sering mengingatkan, bahwa sebelum SD dia akan dikhitan.  Warning juga kepada saya, kita sebagai orangtua, untuk selalu mendampingi anak saat melihat tayangan televisi, karena bagi anak, semua yang dilihat langsung diserap100% tanpa saringan. Maka menjadi teramat bahayanya jika sampai terpapar PORNOGRAFI.

Libur panjang pasca lebaran inilah waktu yang saya rencanakan. Suami sempat sedikit ragu. Karena usianya yang masih enam tahun dan sebenarnya dia belum  paham apa itu khitan. Lebih pastinya sesakit apa DI-KHITAN.  Saya sampaikan ke suami justru momen dia belum- tahu- apa-apa itu yang dimanfaatkan. Sebelum dicekoki cerita macam-macam oleh teman-temannya.

“Kalau Keenan puasanya pinter, banyak magribnya, nanti dapat hadiah.” ucap si Ayah.
“Tobot Tritan!” seru Keenan girang, membayangkan mainan impiannya. Si Ayah mengangguk, sambil sibuk browsing berapa harganya.
“Trus habis lebaran kan libur panjang, sebelum masuk SD. Keenan mau khitan di rumah  atau ke klinik dokter?” saya mulai menginisiasi rencana khitan sejak menjelang ramadan.
“Klinik dokter aja, Bun. Kalau di rumah nanti nunggunya lama. Lagian aku malu kalau nangisnya keras. Kalau di dokter nanti kan dideri permen, jadi pas khitan ga sakit, kayak di Upin Ipin. Tahu-tahu udah selesai, ga kerasa.” Katanya sambil senyum. “Tapi beliin mobil remote ya, Bun.”
Saya iyain sajalah.

Dan emang dasar rejekinya. Segala apa yang dia ucapkan-demi khitan-kok yang terkabul. Tiba-tiba pertengahan ramadan dibelikan mobil remote sama budhe setelah diajak bukber di Dafam Hotel. Dapat janji di belikan tas dan sandal dari budhe yang lain. Sepatu hitam memang sudah disiapkan ayah dari kapan bulan. Well done! Semua  upeti sudah tersedia hahaha. Sebenarnya sih semua hal yang dibelikan tersebut memang bertepatan dengan momen lebaran dan tahun ajaran baru sekolah. Jadi yaaa…pas aja. Insyaallah tidak mubazir.

Dokter khitan yang saya pilih berpraktek dekat kantor. Jadilah saya dan suami konsultasi pada hari pertama kami berangkat kerja. Seperti apa proses khitan jaman sekarang, tentu jauh beda dengan jaman suami dulu. Khitan laser, begitu penjelasan dokter. Menggunakan alat semacam garputala dengan kawat besi. Menurut penjelasan dokter anak usia berapapun bisa dikhitan.

Sabtu, 23 Juni 2018 bertepatan dengan 9 Syawal 1438H, adalah hari yang terpilih untuk melaksanakan rencana besar tersebut. Sederhana saja,libur sekolahnya masih lama. Terus terang saya agak khawatir jika proses kesembuhan khitannya lama. Meski dokter menyatakan dalam empat hari biasanya luka sudah kering asal anak terjaga gerakan berlebihan seperti lari dan bersepeda.

Keenan ceria seperti biasa sampai tiba di klinik dokter tersebut. Begitu masuk ruangan. Naaah drama dimulai, tangannya mencengkeram lengan saya kuat sambil menangis. Rupanya yang membuat takut adalah peralatan dokter berupa jarum dan gunting. Perlu kesabaran ekstra untuk membujuknya.
“Nggak jadi? Mau pulang sekarang?” jurus negasi menegasikan saya lancarkan.
“Jadi, tapi sebentar dulu…” ucapnya dalam tangis. Baiklah rupanya dia sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Antara lucu, sedih dan trenyuh melihat ekspresinya. Anak mbarep yang baru lebas balita itu begitu polos.

Kebetulan ada kelas 6 SD yang bersedia sunat lebih sahulu. Dari cerita sang ibu, dulu saat kelas 4 SD sempat datang ke klinik tersebut namun batal, karena si anak masih takut. Iya saya sudah sering  mendengar beberapa cerita dari teman tentang tertundanya khitan seorang anak laki-laki dari karena takut.

Proses khitan itu sendiri relatif cepat. Sekitar 20-30 menit. Dan 30 menit kemudian bius sudah habis, jadi belum sampai rumah Keenan sudah merengek, hahaha. “Astaghfirullah sakit,huhah, Ya Allah sakit.”  Setelah  minum madu, makan siang dan minum obat sudah lebih tenang. Berkali kali minta air putih. Well part 1 sudah terlewati.

Drama selanjutnya adalah perkara ke kamar mandi. Setelah BAK beres, dia mulai gelisah tentang BAB. Maka segala teori dia kemukakan.
“Bunda nanti…"
“Bunda jangan.."
“Bunda pelan…"
Judulnya parno jika bagian tersebut tersentuh akan sakit. Senyatanya tidak semenakutkan itu. Benar kata dokter, empat hari kemudian, lukanya sudah hampir kering. Yess, akhirnya Keenan mau mandi (sebelumnya hanya seka, dan wudhu dengan tayamum hehe).

Oh ya, jaman sekarang ada celana sunat alias celana pelindung. SEmcam celana dalam dengan lapisan karet semi busa yang dijahit dibagian depan. Lebih dari seminggu Keenan nyaman memakainya. Walau luka sudah kering, bentuk sudah bagus, masih ada rasa takut jika terbentur akan terasa sakit. Padahaaaal, dia sudah mulai lari-lari main bola.

So, berikut tips mengkhitankan anak khususnya usia belia (sebelum SD):
1.Sampaikan kisah tentang khitan jauh-jauh bulan bahkan tahun. Sesuaikan dengan daya tangkap bahasa anak.
2. Jujurlah bahwa khitan itu sakit namun hanya sebentar. Setelah itu jadi anak pintar.
3. Beri hadiah (bila perlu) untuk mengapresiasi keberanian anak.
4. Siapkan mental orangtua untuk menangani drama pasca khitan.
5. Karena anak masih belia belum terkena kewajiban ibadah. Jadi sesekali kelewat shubuh, tak apa he he..
6.Syukuran pasca khitan? Kalau ini mah optional, tidak ada kewajiban mengumumkan prosesi khitan selayak kewajiban mengumumkan akad nikah.

Alasan terakhir kenapa saya beneran keukeuh mengkhitankan anak tahun ini, karena sedang hamil hahaha. Jika ditunda hingga tahun depan, khawatir sudah sibuk dengan tangisan bayi. Alasan ini mah kondisional sekali yaaaa..

Alhamdulillah, lega rasanya sudah mengantarkan anak menuju gerbang kedewasaan (tsaaah). Minggu depan beneran nganterin ke gerbang sekolah baru, SDIT Permata Hati.

Friday, June 1, 2018

Ramadhan Berkah

Ramadhan 17


Bulan lalu sempat khawatir apakah saya bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan normal. Iya, mual tiada tara sejak kehamilan minggu ke lima membuat saya lungkrah. Setiap sore menjelang malam, rasanya malas mengerjakan apapun. Berbaring adalah pilihan yang paling nyaman. Maka Keenan pun jadi rajin memijat kaki emaknya seraya berkata, "Bunda kalau udah ga lemes sekali kita mainan ya.." Saya mengangguk, "mainan disini saja ya, main lempar bantal." ucap saya lemas. Baru minggu ke tujuh saya sudah berpikir, apakah akan sanggup melewati kondisi seperti ini hingga minggu ke empatpuluh. Ampuun!

Keterpurukan saya berlangsung hampir enam minggu. Keenan pun jadi rajin membantu emaknya cuci piring, meskipun setelah itu harus ganti baju dan dapur jadi becek semua. Anak usia 6 tahun itu setiap saya pulang kerja pasti bertanya, "Bunda lemes sedikit atau lemes banyak?"

Pak suami juga turut heran. Dia yang semangat dengan adanya tambahan calon pewaris (koleksi ratusan  diecast ) dilanda keheranan yang sangat. "Apakah saat dulu hamil Keenan juga begini?" Saya menggeleng. Saat itu kami masih tinggal beda kota. Saya tinggal bersama ibu suami, dia tinggal bersama ibu saya. Kok bisa? Itu yang namanya dunia terbalik eh, dunia kerja yang terbalik.

Kehamilan tujuh tahun lalu, amatlah senang. Saya menikmati setiap pertumbuhan janin dengan membaca tabloid dan majalah. Baik beli baru maupun bekas. Semangat dong, iyes! Hamil ngebo, begitu orang bilang. Hamil tanpa ribet, hamil tanpa ngidam, hamil tanpa mual, hamil pemakan segala. Kenyamanan itu yang membuat saya memandang aneh melihat ibuk-ibuk lain yang seolah berlagak lemes, bedrest, tidak doyan makan dll. Kondisi saya teramat baik, hanya berbeda perut yang menggendut saja.

Kemudian keadaan berbalas sekarang. Proses program hamil yang penuh drama, ditambah sekarang menjalani trisemester pertama yang tidak mudah.

Tentang program hamil bisa baca disini :

Setelah bercerita dengan beberapa teman yang sedang hamil atau pun baru melahirkan. Dooor, saya tersentak. Bukan kaget sih, tapi lebih pada kesadaran bahwa yang saya alami tidak ada apa-apanya. 
- ada teman yang bedrest total bahkan hingga saat ini usia kandungan 8 bulan.
- ada teman yang masuk hospital karena ada semacam infeksi. Hormon HCG dianggap musuh sama leukosit.
- beberapa teman merasakan mual muntah hingga bulan ke empat kehamilan.

Saya? Alhamdulillah memasuki bulan ke tiga, kondisi badan sudah lebih stabil. Beberapa kali keluar kota dalam rangka kerja ataupun jalan-jalan, nyaman-nyaman saja. eh tapi tetap ada bedanya, lebih cepat lelah. Kalau ini karena faktor U mungkin.

Kembali ke tema puasa. Setelah mantap akan membayar fidyah jika tak sanggup puasa, saya niatkan mampu puasa minimal separuh. Rencana, sehari puasa sehari enggak. 

Hari pertama saya batalkan bakda duhur. 
Hari kedua lancar jaya, buka puasa bareng teman-teman.
Hari ketiga tepar pasca belanja ke pasar.
Hari keempat, kelima, keenam, ketujuh, yaiy...Alhamdulillah full....
Semoga seterusnya...Aamiin.

Puasa itu hanya memindahkan jam makan saja. Dari siang ke malam. Itu juga yang jadi salah satu strategi saya. Setelah buka puasa dengan yang manis, kurma, kolak, es buah (maruk) dilanjut makan besar bakda magrib. Maka setelah tarawih saya menyengaja nyemil - nyemil lagi. Nyemil sayur sop, nyemil nasi lele, jus, kolak (lagi), bubur pokoknya macem-macem dah.


Ini dilakukan karena sayang dengan janin, pun saya menjaga supaya berat badan tidak turun. Karena 1,5 bulan kemarin, BB sudah turun 2kg akibat mual yang merajalela mengakibatkan selera makan saya drop hingga titik nadir. hallah!
Sekarang? Udah balik lageee, namun sayangnya belum berimbang dengan muatan perut. Serius, ini perut cepet banget kenyang. Hadeuh, padahal masih pingin makan macem-macem demi gizi di janin. Alesan!

Sunday, May 13, 2018

Luka Hati


Ketika ada berita kerusuhan di Mako Brimob oleh sekian napi teroris, saya tak terlalu perduli. Meski kemudian, bertanya-tanya, bagaimana bisa ratusan napi teroris tanpa penjagaan maksimum. Entahlah, napi teroris ataupun terduga teroris bagi masyarakat awam seperti saya, nampak sama. Bisa jadi memang benar iya, bisa jadi juga salah.

Kejadian berlanjut dengan pengejaran terduga jaringan teroris di Cianjur, bom di tiga gereja di Surabaya, bom di Rusunawa Wonocolo, bom di Mapolresta Surabaya dalam sekian hari berturut-turur membuat saya trenyuh. Bagian paling pilu adalah ada anak-anak disana.

Saya baru memiliki satu putra laki-laki berumur enam tahun. Bagaimana mencintai anak dengan memberikan kasih sayang dan pendidikan terbaik adalah cita-cita semua orangtua, itu yang saya yakini. Sependek pengetahuan keislaman saya, susaaah sekali rasanya bisa mengerti bagaimana orangtua bisa mengajak anak-anak untuk melakukan aksi semacam itu.

"Ini hanya sakit sementara. Ini hanya sakit di dunia. Setelah ini kita akan kekal abadi di surga?Beginikah yang mereka doktrinkan pada anak-anak. Duuuh...

Saya tak paham fiqih. Ritual ibadah saya masih seputaran wajib dan sunah muakad. Mungkin itu kenapa saya tak paham dengan jalan pikiran mereka

Sekian belas tahun lalu menjelang  saya kuliah di Jogja, almarhum Bapak mengingatkan saya untuk hati-hati memilih teman. Silakan mengaji tiapi tak perlu begitu-begitu. Alhamdulillah pemahaman agam saya waktu kuliah sedikit meningkat karena ada wadah yang cukup kental di lingkungan kampus. Di sana saya mengenal bagaimana mengenakan hijab, kenapa orang bercadar, kenapa laki-laki celananya cingkrang. Ada pemahaman yang saya anut hingga kini sehingga 'berasa' lebih mudah memahami situasi 'semacam ini'.

Kembali kepada membawa anak-anak dalam "jihad" versi mereka, apalagi dibawah umur, sungguh, diluar nalar saya.

Semoga segera Allah bukakan  pintu hati yang tertutup rapat.
Semoga segera Allah bukakan pintu hati atas hidayah.
Aamiin

KEMBALI MENULIS



Setelah absen menulis lebih dari empat puluh purnama, weekend ini kembali berjibaku merangkai kata demi kata. Ececiee… Ini sebagai pertanda benar dari perkataan seorang mentor nulis bahwa ketika kita sudah menemukan waktu dan cara nulis, mensejarahkan cerita itu menjadi nikmat, bukan lagi beban (seperti dikerjar setora 1m1c). Apalagi dikerjar deadline.  Tapi sekalinya mandeg-deg. Sudah deh, mulai lagi, mualaasnyaaa… Makin pinter saja nyari alasan
Bedanya alasan kali ini cukup masuk akal. Trisemester pertama ini sungguh tidak mudah melalui hiks…hiks… Tepar pisan. Setiap sore Keenan selalu bertanya, “Bunda hari ini cape sekali apa cape sedikit?”  Dan ketika jawabannya “sedikit” dia akan tertawa lebar, karena itu berarti ada teman bermain. Kemana ayahnya? HAPE-AN dong!
Kemudian  sejak Jumat-Sabtu-Ahad ini berusaha menuntaskan:
-  satu naskah calon antologi FAKTA UNIK
- satu naskah calon antologi dongeng FABEL
- setoran grup terkeceh, 1minggu1cerita, dengan tema KEMBALI
Kali ini sunggu penuh perjuangan diantara mual, pusing, batuk, pilek, bersin-bersin….Astaga lengkap bener  penyakit musiman ini semakin membuat drama deadliner macam sayah makin ngos-ngosan. Apa kabar calon buku solo? Maret-April ini beneran off sama sekali tidak melirik. Sempat buka-buka deng kemarin,lumayan sebenarnya sudah dapat 10 cerita dari target 25 naskah. Niatnya sih, tahun ini fokus ke solo, masak antologi mulu. Nyatanya saya harus berdamai dengan perut yang semakin membuncit ini. Alesan!
Pada dasarnya ikut proyek antologi itu bagian dari mengasah kemampuan menulis dan menuangkan ide. Bagi saya tentu saja


Monday, March 26, 2018

Satu Kata, Janu


sumber:pixabay
Air mata meleleh dari sudut mata bulat Sukma, perempuan kurus berambut sebahu itu. Tangannya melambai pelan. Bibirnya mengatup rapat. Pria berkacamata minus yang baru masuk ke dalam gerbong kereta membalas lambaian tangannya. Dia menangkupkan telunjuk dan ibu jari kedua tangannya membentuk hati dan ditempelkan ke dada.

Belum genap enam bulan pria  yang selalu memakai kaos hitam itu menemani hari-harinya, menarikan kuas di atas kain kanvas. Lukisan abstrak yang sekian tahun  menjadi kebiasaan Sukma meluapkan rasa, mulai memperlihatkan garis-garis tegas. Ada perbedaan campuran warna yang  Sukma bubuhkan dalam setiap goresan.
Pria itu itu tiba-tiba muncul dalam dunianya. Tak ada yang istimewa dengan pria itu -selain- ketenangannya saat bicara. Lembut. Setiap kata dieja sempurna menyerupai puisi yang bermakna santun.

Hingga hari ini tiba. Raungan lokomotif serasa menusuk kembali luka lama. Peristiwa lima belas tahun silam, masih mengakar jelas dalam ingatan. Dentuman keras dibarengi nyala api membakar gerbong kereta. Sukma kecil hanya bisa menangis dan menangis dalam pelukan beku ibu.

Setelah hari itu, Sukma enggan bersuara. Tak ada tangis, tawa atau cerita dari mulutnya.
Tatapan pria itu menguatkannya.
Jangan ditentang, nikmati kesakitan itu, dan kau akan semakin kuat. 

 Suara bising kereta berhasil ditiadakan dengan eratnya genggaman tangan pria berambut ikal itu. Sayangnya itu tidak lama, jeritan peluit menampar ikatan yang baru saja terjalin. Gerbong kereta melaju perlahan, perlahan dan semakin cepat.

“Ja…nu…” Lirih suara Sukma mengeja. Debar halus membuatnya merinding. Selama limabelas tahun ada bongkahan pilu yang membuatnya tak sanggup mengucapkan kata. Dan kali ini… dia bisa..Air mata semakin deras mengalir.

Sebuah pesan telepon dari Janu,  aku ingin mendengar suaramu, segera kutelpon saat sampai.

Saturday, March 24, 2018

Vonis Dokter Tidak Selalu Benar


sumber:pixabay

Menghandle pelatihan kali ini cukup menguras enerji saya. Pelatihan penilaian properti sederhana yang sudah saya gagas sejak dua tahun lalu. Baru diapprove sekarang. Mahal memang. Akan tetapi investasi pendidikan kepada karyawan akan berimbas pada peningkatan kinerja. Harapannya sih gitu…
 Walau hanya duduk mendengarkan plus dapat makan dan jajan yang bikin perbaikan gizi, tetap saja saat sampai rumah rasanya lungkrah. Bahkan belajar ngaji bersama anak saja sempat ada ‘mak less’ terkantuk. Maka belum juga jam 09.00 malam, saya sudah terlelap, sementara anak masih asyik bermain. Suami? Samaaaaa….hadeuh.
Seminggu ini agak aneh, nafsu makan saya berkurang. Di kantor saya dikenal tukang makan. Iya, porsi makan siang saya banyak plus doyan ngemil. Dan –apesnya- saya tidak bisa gemuk. Ya..segitu..aja dari jaman belum menikah. Kata  teman senior, biasanya setelah punya anak, badan sedikit melebar. Jadi kalau berat badan saat gadis dan setelah punya anak, sama, berarti kurus. Itulah saya. Silakan iri! hahaha. Saat bulan puasa tiba, orang lain senang turun berat badan 2-3kg, saya  biasanya  turun hingga 4kg alias 1kg per minggu. Setelahnya saya butuh waktu lebih dari 2 bulan untuk kembali semula. Fiuuh.
Makan bakso malang, saya muat dua mangkok. Sedang makan bakso biasa plus mie dan lontong! Tapi Selasa kemarin berbeda. Semangkok bakso tidak sanggup saya masukkan semuanya ke dalam perut. Hanya separuh, ada apa? Sepertinya saya meriang. Saya cek kalender, jadual bulanan saya sudah telat 7  hari. Tapi apa iya? Karena vonis dokter menyatakan saya tidak akan bisa hamil normal. Hasil HSG akhir Januari 2018 lalu menurut dokter hanya ada dua kemungkinan, operasi laparoscopy untuk membuka sumbatan rahim atau bayi tabung. 

Kisah lengkap tentang tuba falopi non patent ada disini.

Dan saya kaget saat mencoba memakai test pack seharga lima ribuan. Dua garis merah timbul! Kamis sore kembali saya lakukan uji menggunakan test pack seharga sepuluh ribuan. Hasilnya, sama! Jumat dini hari masih juga saya lakukan uji menggunakan test pack seharga tigapuluh ribuan. Dua garis merah jelas terlihat. Rasanya ingin melompat tinggi.  Namun saya tidak berani senang dulu sebelum periksa ke dokter.

Jumat pagi jam 09.00, saya kabur ke RS dekat kantor. Saya memilih datang ke dokter pertama yang saya kunjungi enam bulan lalu saat awal program hamil. Saat itu saya diberi obat hormon untuk merangsang menambah jumlah sel telur. Tiga bulan berjalan, tidak berhasil. Saya berinisiatif pindah ke dokter lain. Dari dokter kedua, saya kembali diresepkan obat dan diminta tes HSG (hysterosalpingography)  untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada jalur rahim. Hasilnya kedua tuba falopi non patent, alias tersumbat. Vonis itu membuat saya syok.


Saya sajikan hasil HSG kepada dokter pertama, jawaban beliau sama dengan dokter kedua. Alternatifnya operasi LO atau Bayi Tabung. Selesai beliau menjelaskan, saya sampaikan tentang hasil test pack.
“Serius?” ucap bu dokter takjub. “Yuk, kita lihat! Astagaaa bener, ada kantung bayinya!” seru bu dokter cantik berhidung mancung itu.
Syukur alhamdulillah terucap berkali-kali dari mulut saya. Masyaallah. Terhitung 5 minggu. Allah Maha Baik.
Versi dokter, bisa jadi perlakuan HSG itulah yang mengobati infeksi pada sumbatan rahim. Cairan yang disemprotkan, pada beberapa kasus juga bisa berfungsi untuk memperbaiki saluran tuba falopi.

Saya memilih percaya pada kuasa Allah. Sudah dua dokter menyatakan saya tidak akan bisa hamil lagi dengan cara normal. Dengan doa, sedekah, dan ikhtiar thibunnabawi, alhamdulillah doa saya, doa kami diijabahi, hanya dalam selang waktu satu bulan. Semoga dilancarkan hingga kelahiran dan bisa menikmati tumbuh kembang anak kedua. Pasti seru! Bismillah.

Mintalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan
 (QS. Al-mu’min:60)