Monday, March 26, 2018

Satu Kata, Janu


sumber:pixabay
Air mata meleleh dari sudut mata bulat Sukma, perempuan kurus berambut sebahu itu. Tangannya melambai pelan. Bibirnya mengatup rapat. Pria berkacamata minus yang baru masuk ke dalam gerbong kereta membalas lambaian tangannya. Dia menangkupkan telunjuk dan ibu jari kedua tangannya membentuk hati dan ditempelkan ke dada.

Belum genap enam bulan pria  yang selalu memakai kaos hitam itu menemani hari-harinya, menarikan kuas di atas kain kanvas. Lukisan abstrak yang sekian tahun  menjadi kebiasaan Sukma meluapkan rasa, mulai memperlihatkan garis-garis tegas. Ada perbedaan campuran warna yang  Sukma bubuhkan dalam setiap goresan.
Pria itu itu tiba-tiba muncul dalam dunianya. Tak ada yang istimewa dengan pria itu -selain- ketenangannya saat bicara. Lembut. Setiap kata dieja sempurna menyerupai puisi yang bermakna santun.

Hingga hari ini tiba. Raungan lokomotif serasa menusuk kembali luka lama. Peristiwa lima belas tahun silam, masih mengakar jelas dalam ingatan. Dentuman keras dibarengi nyala api membakar gerbong kereta. Sukma kecil hanya bisa menangis dan menangis dalam pelukan beku ibu.

Setelah hari itu, Sukma enggan bersuara. Tak ada tangis, tawa atau cerita dari mulutnya.
Tatapan pria itu menguatkannya.
Jangan ditentang, nikmati kesakitan itu, dan kau akan semakin kuat. 

 Suara bising kereta berhasil ditiadakan dengan eratnya genggaman tangan pria berambut ikal itu. Sayangnya itu tidak lama, jeritan peluit menampar ikatan yang baru saja terjalin. Gerbong kereta melaju perlahan, perlahan dan semakin cepat.

“Ja…nu…” Lirih suara Sukma mengeja. Debar halus membuatnya merinding. Selama limabelas tahun ada bongkahan pilu yang membuatnya tak sanggup mengucapkan kata. Dan kali ini… dia bisa..Air mata semakin deras mengalir.

Sebuah pesan telepon dari Janu,  aku ingin mendengar suaramu, segera kutelpon saat sampai.

Saturday, March 24, 2018

Vonis Dokter Tidak Selalu Benar


sumber:pixabay

Menghadle pelatihan kali ini cukup menguras energi saya. Pelatihan penilaian properti sederhana yang sudah saya gagas sejak dua tahun lalu. Baru diapprove sekarang. Mahal memang. Akan tetapi investasi pendidikan kepada karyawan akan berimbas pada peningkatan kinerja. Harapannya sih gitu…
 Walau hanya duduk mendengarkan plus dapat makan dan jajan yang bikin perbaikan gizi, tetap saja saat sampai rumah rasanya lungkrah. Bahkan belajar ngaji bersama anak saja sempat ada ‘mak less’ terkantuk. Maka belum juga jam 09.00 malam, saya sudah terlelap, sementara anak masih asyik bermain. Suami? Samaaaaa….hadeuh.
Seminggu ini agak aneh, nafsu makan saya berkurang. Di kantor saya dikenal tukang makan. Iya, porsi makan siang saya banyak plus doyan ngemil. Dan –apesnya- saya tidak bisa gemuk. Ya..segitu..aja dari jaman belum menikah. Kata  teman senior, biasanya setelah punya anak, badan sedikit melebar. Jadi kalau berat badan saat gadis dan setelah punya anak, sama, berarti kurus. Itulah saya. Silakan iri! hahaha. Saat bulan puasa tiba, orang lain senang turun berat badan 2-3kg, saya  biasanya  turun hingga 4kg alias 1kg per minggu. Setelahnya saya butuh waktu lebih dari 2 bulan untuk kembali semula. Fiuuh.
Makan bakso malang, saya muat dua mangkok. Sedang makan bakso biasa plus mie dan lontong! Tapi Selasa kemarin berbeda. Semangkok bakso tidak sanggup saya masukkan semuanya ke dalam perut. Hanya separuh, ada apa? Sepertinya saya meriang. Saya cek kalender, jadual bulanan saya sudah telat 7  hari. Tapi apa iya? Karena vonis dokter menyatakan saya tidak akan bisa hamil normal. Hasil HSG akhir Januari 2018 lalu menurut dokter hanya ada dua kemungkinan, operasi laparoscopy untuk membuka sumbatan rahim atau bayi tabung.

Kisah lengkap tentang tuba falopi non patent ada disini.

Dan saya kaget saat mencoba memakai test pack seharga lima ribuan. Dua garis merah timbul! Kamis sore kembali saya lakukan uji menggunakan test pack seharga sepuluh ribuan. Hasilnya, sama! Jumat dini hari masih juga saya lakukan uji menggunakan test pack seharga tigapuluh ribuan. Dua garis merah jelas terlihat. Rasanya ingin melompat tinggi.  Namun saya tidak berani senang dulu sebelum periksa ke dokter. 
Jumat pagi jam 09.00, saya kabur ke RS dekat kantor. Saya memilih datang ke dokter pertama yang saya kunjungi enam bulan lalu saat awal program hamil. Saat itu saya diberi obat hormon untuk merangsang menambah jumlah sel telur. Tiga bulan berjalan, tidak berhasil. Saya berinisiatif pindah ke dokter lain. Dari dokter kedua, saya kembali diresepkan obat dan diminta tes HSG(hysterosalpingography)  untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada jalur rahim. Hasilnya kedua tuba falopi non patent, alias tersumbat. Vonis itu membuat saya syok.

Saya sajikan hasil HSG kepada dokter pertama, jawaban beliau sama dengan dokter kedua. Alternatifnya operasi LO atau Bayi Tabung. Selesai beliau menjelaskan, saya sampaikan tentang hasil test pack.
“Serius?” ucap bu dokter takjub. “Yuk, kita lihat! Astagaaa bener, ada kantung bayinya!” seru bu dokter cantik berhidung mancung itu.
Syukur alhamdulillah terucap berkali-kali dari mulut saya. Masyaallah. Terhitung 5 minggu. Allah Maha Baik.
Versi dokter, bisa jadi perlakuan HSG itulah yang mengobati infeksi pada sumbatan rahim. Cairan yang disemprotkan, pada beberapa kasus juga bisa berfungsi untuk memperbaiki saluran tuba falopi.
Saya memilih percaya pada kuasa Allah. Sudah dua dokter menyatakan saya tidak akan bisa hamil lagi dengan cara normal. Dengan doa, sedekah, dan ikhtiar thibunnabawi, alhamdulillah doa saya, doa kami diijabahi, hanya dalam selang waktu satu bulan. Semoga dilancarkan hingga kelahiran dan bisa menikmati tumbuh kembang anak kedua. Pasti seru! Bismillah.

Mintalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan
 (QS. Al-mu’min:60)


Saturday, March 10, 2018

Kembali ke Titik Awal




“Satu-satunya jalan dengan bayi tabung.” Begitu penjelasan dokter Sp.Og yang baru saya kenal dua bulan terakhir. Jawaban ini seperti petir ditengah mendung yang bergelanyut di akhir Januari. Benar, saat saya keluar ruangan dokter memang sedang hujan deras, sehingga suasana lebih dramatis. Apakah setelah itu saya nangis bombay? Alhamdulillah tidak. Meski jawaban dokter pasca tes HSG (hysterosalpingography) tersebut, sungguh diluar dugaan saya dan suami. Ketika saya tanyakan penyebab dari tersumbatnya kedua tuba falopi tersebut, dokter menjawab, “bisa jadi karena pijatan dukun bayi setelah melahirkan anak pertama. Karena tanpa dibantu pijatan, rahim akan kembali semula." 
Dorr! Jawaban dokter inilah yang justru membuat saya syok. Sebegitu entengnya jawaban tersebut. Sependek yang saya ingat, enam tahun lalu saya menggunakan dukun bayi hanya untuk merawat anak saya hingga 10 hari. Kenapa tidak 40 hari? Mahal! Asalkan pusar sudah lepas, sudah percaya diri lah memandikan bayi sendiri. Dan saya tidak melakukan pijat perut, hanya pijat biasa karena –ternyata- kelelahan alias badan puegel luar biasa justru setelah 2-3 hari pasca proses melahirkan normal. Saat itu saya sudah paham betul, bahwa rahim tak perlu dipijat.
 Bagi saya akan lebih masuk akal jika jawaban dokter lebih bersifat medis, misal infeksi, peradangan atau apalah namanya. Setidaknya jika ada indikasi medis, berarti ada obatnya kan? Sayangnya pak dokter menggeleng, meski kemudian tetap meresepkan antibiotik yang saya bayar setengah resep. Iya, antibiotik yang saya lupa namanya itu satu tablet Rp.15.000 dan diresepkan 25 hari. Aah saya ogah lah. Trauma aja dengan vocab antibiotik yang sering diresepkan dokter anak saat anak saya kena batuk pilek. Iih, para bapak ibu dokter yang hobinya memberi antibiotik kayaknya lulus dengan catatan deh.
Sekian hari setelah itu saya dan suami tidak membicarakan hasil HSG dan kunjungan ke dokter tersebut. Kami juga tidak membahas bagaimana dengan program hamil anak kedua ini yang intensif dilakukan enam bulan terakhir. Mungkin suami juga menjaga perasaan saya. Saya sendiri sibuk googling apasih tuba falopi non patent itu. Dari googling tersebut membawa saya tahu istilah operasi laparoscopy,yaitu operasi membuka perlengketan rahim atau saluran tuba. Berapa harganya? Tentu saja mehong, senilai tiket umroh berdua kayaknya.
Mungkin ini rasanya orang-mereka-yang belum memiliki keturunan. Sekian tahun menikah belum memiliki anak tentu bukan saja beban namun tekanan batin, apalagi jika ada acara keluarga. Duuuh beraat pasti. Dulu saya (sering) merasa kasihan kepada mereka-yang menurut saya- kurang beruntung.
Kini saya merasakan apa yang mereka rasakan. Betapa berusaha memiliki keturunan tidaklah mudah. Saya lebih beruntung karena sudah memiliki balita yang sekarang sedemikian cerewet bertanya kapan punya teman main. Alhamdulillah proses kehamilan pun cepat saat itu. Langsung jos!
Sampai pada titik saya berhenti. Saya berpikir. Secara tidak sadar bisa jadi saya telah berlaku sombong. Bahwa ada banyak kenikmatan Allah, namun cara bersyukur saya tidak kaffah. Allah sedang menguji saya dengan keinginan yang belum bertemu  takdir-Nya. Saya berusaha mengubah pola pikir yang terjadi. Demi memiliki keturunan lagi, saya ikhtiarkan rutin berkunjung ke dokter. Sayangnya saya lupa menghamba kepada-Nya. Saya alpa merayu-Nya dalam setiap doa. Sholat, puasa, sedekah masih menjadi rutinitas belaka. Saya harus kembali ke titik awal. Sebuah awal yang seharusnya dilakukan. Mendekatkan diri kepada yang Maha Hidup.  
Di sela-sela kerja awal tahun yang padat, dari sebuah artikel saya menemukan tulisan tentang pengobatan cara Rasululllah dengan bekam dan herbal sebagai salah satu solusi penyumbatan tuba falopi. Saya pun belajar tentang habbatussauda, madu dan minyak zaitun. Khasiat ketiganya tentu tidak diragukan karena disebutkan dalam Al Quran dan diriwayatkan hadist. Disaat bersamaan saya teringat seorang teman yang pernah bercerita pernah menjadi terapis bekam.
Pintu pun mulai terbuka. Ada selarik cahaya harapan baru yang terbit di dada. Si teman pun bercerita kalau sebelum memiliki keturunan, pernah mengalami masalah rahim. Terapi bekam dan herbal dilalui sampai kemudian memiliki 3 anak yang lucu-lucu.
Well, bismillah, semoga ikhtiar menurut thibunnabawi ini akan segera membuahkan hasil. Aamiin.



Saturday, February 17, 2018

Wisata Adem Kebun Teh Pagilaran

Alam hijau kebun teh (pic:docpri)
Apa sih liburan favorit keluarga? Kalau saya berdiam di rumah membuat kue bersama si kecil juga sudah menyenangkan. Tapi pada dasarnya sih saya tukang jalan. Senang bepergian dari jaman bujang. Mumpung belum menikah puas-puasin travelling karena setelah menikah repot tujuhbelas kali bawa anak. Adegan jalan-jalan saya tidak terlampau jauh, masih seputaran Jawa saja. Yang paling ngehits adalah backpackeran bersama sepuluh orang yang tidak saya kenal menuju Karimunjawa. Kapan itu? Tahun 2010, saat itu belum ada acara televisi My Trip My Adventure, jadi  menghabiskan tiga hari di sana-tanpa badai-adalah keberuntungan luar bisa meng-explore kecantikan kepulauan sebelah utara kabupaten Jepara itu.
Kali ini cerita liburan menjelang akhir tahun lalu. Dekat rumah saja yaitu berjarak 30 kilometer atau sekitar empatpuluh menit berkendara dari alun-alun kota Batang. Kemana? Kebun Teh Pagilaran Batang. Ini kali ketiga saya kesana. Salah satu tempat favorit  karena saya menyukai daerah berhawa sejuk. Lebih tepatnya saya memang lebih cocok jadi anak gunung, karena menghabiskan masa remaja di lembah gunung Tidar dan lereng gunung Slamet, daripada menjadi anak pantai, walau sekarang bermukim 3 km dari garis pantai pantura.
Jeda yang cukup lama antar waktu bepergian ke Pagilaran, cukup membuat pangling dengan fasilitas yang disediakan untuk para pengunjung. Sudah lebih ramah anak. Apa saja wahana yang tersedia, simak ya:
1. Flying Fox
Wahana dengan peminat paling banyak. Satu seru, dua muraah banget-nget. Itu alasan sebagian besar anak dan orang dewasa mencoba meluncur berpegang tali dengan carabiner terpasang kencang. Dengan  Rp.10.000,- sudah bisa mengantri di start  point flying fox. Panjang lintasan sekitar 200 meter. Permainan ini aman untuk anak balita sekalipun. Anak saya yang yang baru genap enam tahun pun, ketagihan!
flying fox di area kebun teh (pic:ilmudes.com)

2. Taman bermain
Taman rumput dengan kontur tanah berbukit, sangat nyaman untuk bercengkrama dengan keluarga dan teman. Hanya perlu diingat untuk membawa payung atau jas hujan. Karena hampir setiap hari turun hujan. Curah hujan Kebun Teh Pagilaran sangat tinggi. Dalam setahun hanya 30-60 hari tanpa hujan. Hal ini dikarenakan ketinggian Kebun Teh Pagilaran 1000-1700m di atas permukaan laut.
lesehan di kebun teh Pagilaran (pic:docpri)

3. Area Panahan
Ada sebuah area yang tidak terlampau luas dimanfaatkan untuk belajar memanah. Harga tiketnya sama, Rp.10.000,- Sayangnya hujan turun deras saat kami ingin mencoba menarik busur panah. Melipirlah rombongan ke arah masjid saja.
Mending memanah kehatimu, eaaa.
4. Mobil wisata.
Buat kamu eh saya yang (sudah) malas berjalan jauh bawa balita mengitari kebun teh yang maha luas itu, mending milih naik mobil wisata semacam odong-odong. Mobil ini bisa memuat hingga duabelas orang. Mobil akan membawa penumpang melewati tanaman teh siap petik dari area rendah sampai dengan puncak tertinggi. Dan saat sampai di puncak itulah, pemandangan kota Batang akan terlihat, kalau beruntung. Lagi-lagi gerimis melanda, jadilah yang terlihat kabut semata. Bayarnya cukup Rp.50.000,-/orang.
5. Bebek roda
Mengayuh bebek beroda di kolam seluas 200m2 cukup menyenangkan bagi anak-anak. Meskipun hanya memiliki 2 unit bebek roda, antriannya tidak terlampau banyak jika kita datang pagi sebelum jam 09.00.


Mari me-wisata-kan mata ke alam yang lebih luas nan hijau  daripada selebar layar handphone.
 Yuk ah, jalan!

Thursday, January 11, 2018

Fairy Tales, Penantian Berbuah Manis


cover unyu-unyu buku FAIRY TALES (docpri)

Awal tahun 2018 sudah beresolusi untuk menulis lebih rajin. Sudah mengumpulkan ide untuk dibuat tulisan. Eh dasar bos lagi semangat kerja, awal tahun sudah gaspol aja. Touring luar kota terus menerus. Alhasil sampai rumah lelah, ngantuk, kemudian di gugat si balita,”Bunda kok sudah mau tidur, main sama aku kapan?” Antara trenyuh dan badan pegel. Terus kapan nulisnya?

Baik, target menulis diagendakan di minggu kedua. Rencana mau menulis tentang liburan Desember kemarin. Destinasi wisata Kebun Teh Pagilaran Batang dan Kebun Binatang Gembira Loka. Tumbenan aja liburan kemarin kok ya pas ngumpul. Pas ngumpul di Batang. Pas ngumpul di Jogja. Sudah punya bahan menulis dan gambar-gambar bagus.

Eh dasar punya ribuan alasan, gagal lagi fokus menulisnya. Dan ini sudah Kamis! Why? Kalau ini untuk alasan yang indah. Bagaimana tidak indah, bambang atau heru, kalau Senin sore dapat kiriman gambar cover buku dongeng FAIRY TALES bertuliskan nama saya gede-gede- Maryati Imang dkk-yippii, senangnya!
Buku baru, iyes! Masih buku keroyokan alias rame-rame bareng 44 penulis lain, sih, tapi tetap bangga dong.dasar pemula. Karena kemarin diberi tugas jadi pijey, jadilah nama akooh yang terpampang di depan. Kebayar juga berlelah-lelah japrian nagih naskah. Eits, tugas belum selesai, promoin bukuuu…!

Menulis dunia peri beserta keajaibannya bukan keahlian saya. Seperti halnya memasak, doyan makan dulu baru terinspirasi membuat masakan atau makanan sejenis. Ketika ada tantangan menulis cerita FAIRY TALES, langsung tunjuk tangan deh, ikuut. Setelahnya melipir ke toko buku seberang kantor yang lagi bikin bazaar. Cari referensi. Dibelain beli satu buku pulak. Modal! Modal!

Naskah yang saya tulis di buku tersebut tentang peri makanan, tentang harum masakan yang menggugah selera di sebuah warung makan. Namun ada saja orang yang tidak suka dengan keberuntungan orang lain. Pesan moral yang terselip, balaslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik. Maka dunia akan lebih tenteram. Tsaaah.
peri makanan dengan ilustasi keren

Walau buku tersebut dari penerbit indie, namun kualitas cetakan berikut ilustasinya sekeren buku penerbit mayor. Sebenarnya sebelum membuat naskah buku FAIRY TALES ini, saya dan teman-teman sudah memiliki empat naskah buku bakal terbit melalui gramedia dan elexkids. Namun masih antri, jadi harus sabaar. Katanya, ngantri di penerbit mayor itu, bisa sampai setahun. Alamak! Terobatilah dengan buku terbit indie yang ‘cuma’ butuh waktu satu bulan untuk mengumpulkan naskah dan editing. Sedikit lama untuk membuat ilustasi setiap cerita.Tapi nunggu dua setengah bulan untuk buku ini adalah penantian yang berbuah manis. Senyum terus pokoknya.

Ternyata benar kata mentor nulis, marketshare buku anak itu besar. Mudah saja tinggal unggah poto cover, alhamdulillah banyak teman yang minat. Iyalah, emak-emak macam saya yang memiliki anak usia awal sekolah, pasti mupeng lihat gambar yang unyu-unyu. Promo buku dan nulis naskah, sama serunya! So, untuk Januari ini, jualan dulu, menulis kemudian ehehe.

#minatbukufairytales, wapriyahJ
           



Saturday, January 6, 2018

Aroma Coklat Menggoda

vaseline cocoa radiant(doc:pribadi)

Minggu lalu jelang libur akhir tahun, saya menyempatkan diri jalan-jalan ke toko seberang kantor. Semasa Keenan masih MPASI, setiap Jumat pasti kesana. Sekedar membeli seiris ikan tuna, sepotong pumpkin, dan satu pack kecil unsalt butter. Kalau sekarang urusan dapur cukup mengandalkan tukang sayur langganan yang lewat depan kantor.
Kembali ke toko seberang kantor, semakin dewasa aka menua, nafsu belanja saya memang merosot drastis. Belanja untuk diri sendiri baik cemilan hingga pakaian seringberpikir tiga kali, namun beli barang untuk anak jadi prioritas. Seperti berburu boneka bantal Tayo J.
Lorong favorit saya adalah perkakas dapur yaitu deretan rak wajan, panci dan piring dan teman-temannya. Senang saja melihat pernik-pernik unyu-unyu, dan tetep CEK HARGA, walau ga beli hahaha. Lorong selanjutnya adalah kosmetik. Nah, disinilah saya menemukan si BARU itu. Lotion rasa cokelat! Saya cukup rajin memakai lotion untuk telapak tangan dan telapak kaki. Kenapa cuma dua tempat itu? Karena cuma itu yang terpapar udara luar.. Seharian terpapar benda kotak yang bikin adem itu memang membuat kulit cepat kering apalagi setelah cuci tangan. Jadilah selalu ada sebotol lotion di tas saya.

merawat kulit tangan (cloudfront.net)
Apa sih yang istimewa dari lotion baru yang saya temukan hari itu? Bukan spoiler ya, serius, ini bukan review produk, cuma mau bilang kalau saya suka sekali. Vaseline Cocoa Radiant. Salah satu produk yang cukup sering saya beli karena wanginya lembut dan cepat meresap. Harganya pun masih rasional di kantong saya. Jika sebelumnya paling banter varian Aloevera, yang wanginya kurang saya suka, ketemu Cocoa Radiant langsung jatuh cintrong. Ada gitu lotion rasa cokelat! Ehm, sekalinya oles ke kulit, wangi cokelatnya bisa menenangkan. Kemudian tidoor.
Ternyata memakai lotion pun ada waktu terbaiknya, supaya memberikan hasil optimal:
1.      Gunakan setelah mandi
Sesaat setelah mandi pori-pori kulit dalam keadaan terbuka sehingga kadar air dalam lotion akan terkunci di dalam tubuh. Cara ini efektif untuk kita yang seharian terpapar AC.
2.      Bersihkan kulit yang akan dioles lotion
Kotoran atau debu yang melekat pada kulit akan menghalangi lotion bersentuhan langsung dengan kulit. Maka bersihkan dahulu daerah tangan atau kaki atau bagian tubuh lain, baru oleskan lotion.
3.      Gunakan minimal sehari sekali secara menyeluruh
Untuk mendapatkan hasil kulit halus bercahaya, gunakan lotion minimal sekali sehari. Dan digunakan ke seluruh badan, bukan hanya yang terpapar sinar matahari. Jadi walaupun kulit terbungkus pakaian seharian tetap harus dijaga kelembabannya sepanjang hari. Pun menghindari belang. Bagian ini yang sering terlewat oleh saya karena lebih sering  mengoles bagian telapak tangan dengan lotion karena bolak-balik cuci tangan. Reflek :tangan kotor-cuci tangan, tangan lengket-cuci tangan, pegang uang-cuci tangan.
4.      Perhatikan tanggal kadaluarsa
Naah lo..adakah yang samaan dengan saya suka nyetok lipstik di kemudian hari ternyata udah lewat tanggal aktifnya? Padahal sayang kalau dibuang hehehe. Sebagian besar kosmetik memiliki masa kadaluarsa kisaran dua tahun. Kecuali untuk produk cream kecantikan yang biasanya hanya tahan 3 bulan di lemari pendingin.

Bahwa cantik itu tidak murah ya, bapak-bapak. Kulit cerah merona itu hanya iklan, selebihnya usaha jungkir balik nyalon, facial, lulur de el el nya jauh lebih ribet dari sekedar mengoles lengan. Cerdas itu takdir, cantik itu pilihan J
Happy weekend.

Sunday, December 10, 2017

Lima Pilihan Me Time yang Seru

Memiliki me time yang cukup bagi sebagian besar perempuan adalah hal mewah. Pria dapat melakukan me time atau bahkan hobi selepas jam kerja tanpa ada keterikatan waktu. Berbeda dengan perempuan, apalagi jika sudah memiliki anak, pulang kerja adalah waktu untuk keluarga.
Menurut Psikolog Ayoe Sutomo, M.Psi seperti yang dilansir wollipop.com (31/10/2013), bahwa me time bisa menghindarkan stres khususnya bagi kaum perempuan. Rutinitas sehari-hari seperti bekerja di kantor, mengurus keluarga seringkali menyebabkan kejenuhan sehingga sulit mengontrol emosi. Hanya saja yang perlu dipahami, me timetidak selalu identik dengan cuti, liburan ataupun travelling.
Me time bisa saja dengan melakukan hal sederhana yang menyenangkan hati, setidaknya melepaskan sejenak beban harian. Belanja bisa jadi me time yang ampuh bagi sebagian perempuan, namun jika setelahnya pusing dengan tagihan kartu kredit? Alamaak, bukannya mood bangkit justru drop bahkan tenggelam di kolong meja.
Saya sendiri memiliki pilihan me time dari yang sederhana sampai menyerupai passion. Ada lima hal yang sering dan ingin saya lakukan, apa saja itu?
  1. Bekerja
Aneh ya, jika menjadikan bekerja sebagai me time? Tapi bisa jadi benar! Bahwa bekerja selama 8 jam itu berarti bisa menjadi diri sendiri tanpa diganggu teriakan bocah, hahaha. Sedikit terdengar egois ya? Bekerja menjadi menyenangkan jika sesuai minat dan masih sempat melirik facebook, twitter ataupun whatsapp, yekan? Hal-hal yang tidak bisa (sering) lakukan kala sudah di rumah.
2. Berenang
Salah satu manfaat berenang adalah membuat tubuh rileks. Saya memilih berenang di hotel sabtu pagi selepas mengantar anak sekolah. Suasana hotel yang relatif lengang, dibanding sport centre atau bahkan waterpark, menjadikan mengitari kolam sekian kali sungguh nyaman.
3. Membaca
Membaca termasuk me time mewah bagi saya saat ini, dan mungkin juga bagi kebanyakan perempuan yang sudah terkotakkan dengan tugas domestik. Menyelakan waktu sekian menit apalagi jam untuk membaca buku tidak mudah saat anak merajuk. Selepas anak tidur jadi waktu yang nyaman untuk membaca buku atau sekedar artikel dari gawai di tangan.
4. Menulis

Buku antologi penulis sekolah perempuan
Menulis adalah hobi lama rasa baru. Saat jaman berubah, dimana semua hal terkoneksi digital, memungkinkan tulisan bisa dinikmati khalayak ramai. Proses belajar menulis itu yang kemudian bisa melahirkan sekian karya buku antologi baik melalui penerbit mayor maupun penerbit indie.
5. Cooking Class

cooking class (orlandodatenightguide.com)
Kegiatan ini belum pernah saya lakukan, namun teramat ingin merasakannya. Generasi jaman now itu senang belanja pengalaman bukan lagi kebendaan.  Cooking class hands-on, yang beneran pegang nimbang bahan, nguleni adonan dan plating. Wohoo, mantap kayaknya.
Gimana dengan kalian? Sudah menemukan pola me time? Apa pun namanya saat kita merasa nyaman dan rileks melakukan sesuatu, itulah me timeyang efektif. Mari perbanyak senyum.