Skip to main content

Jadi Bapak Rumah Tangga, Kenapa Tidak ?



Once upon a time

Hari ini dimasakkan apa ?

Serius, kamu baru mandin bayi setelah anak usia 1 tahun. Sebelumnya suamimu?

Aku dikomen suami karena hari ini kelupaan bekal makan siang enggak kebawa...

------

Itu adalah petikan beberapa percakapan dengan salah seorang teman. Sebut saja dia Mawar, eh janganlah, sebut saja dia Milan, biar kedengeran maskulin, haha.

Setiap jam makan siang, biasanya kami berkumpul di satu ruangan kecil. Sebagian dari kami membawa bekal dari rumah, sebagian lain membeli di warung terdekat atau via ojek online. Kebetulan lokasi kantor di komplek alun-alun jadi sebenarnya warung apa saja ada. Hanya saja sejak pemugaran alun-alun, warung yang biasanya berserakan di pandangan mata--pindah. Ya sudahlah.

Saya termasuk orang yang rajin bawa bekal makan siang. Satu hal utama pasti karena H E M A T. Meski lelahnya enggak bisa ditawar, memang. Untuk pekerja pagi-sore macam saya, menyiapkan makan pagi dan siang tiap selepas shubuh perlu keniatan yang sangat. Tenaga mungkin ada, tapi niat tetap yang utama sih.

Alasan kedua karena anak-anak wajib makan sayur pada jam sarapan. Alasan kesehatan?  Tentu itu satu hal, hal yang lain karena anak-anak saya titipkan ke kerabat sehingga baru ketemu di malam hari. Maka, meski bekal makan siang saya bawakan berikut lauk sayurnya--misal tidak dimakan, yasudahlah. Tentu dengan tingkat kecerewetan emak-emak level malaikat, "makan sayur! kalau enggak.......!"

Balik ke cerita Milan. Beberapa tahun lalu dia pernah sedikit mengeluh karena keuangan rumah tangga sebagian besar berasal dari gaji nya. Suami memiliki toko kelontong yang tak terlalu ramai. Kan dulu kamu nikah juga sudah tahu pekerjaan calon suami saat itu, jawaban saya, dibatin tapi, kalau saya sampaikan pasti menyakitkan.

Waktu berlalu hingga tentara api menyerang. Daycare tutup. Jadilah dua orang anak mereka full bersama suami di rumah. Saya ingatkan bagian ini. Seandainya suami tidak pandai merawat anak kecil, mau dengan siapa? Kondisi covid, anak-anak lebih aman di rumah.  Bersyukurlah.

Lepas pandemi mulai mereda suami Milan harus berjual dari nol lagi membuka toko. Kemudian beberapa bulan lalu, Milan bertanya apakah masak sendiri bisa berhemat banyak uang. Tentu saja saya jawab, I Y A. Maka penjelasan panjang lebar berikut resep menu, tips dan trik berdamai dengan keriuhan pagi hari. 

Sekian bulan berlalu, dan fakta-fakta terbaru seperti saya sebutkan di awal tulisan baru terungkap. Bahwa setiap rumah tangga pasti memiliki keunikan masing-masing termasuk pembagian kerja domestik.

Di keluarga kecil saya, urusan dapur tanggung jawab saya, sedang suami bertanggung jawab pada kebersihan rumah, termasuk mencuci baju. Percayalah, urusan njemur baju, suami saya lebih rapi- pun lemari baju suami sering dirapikannya sendiri. Saya? Sudah ribuan purnama saya pasrah dengan tumpukan yang sering olèng. Di rumah Milan, beda lagi. Nyaris semua urusan domestik suami yang pegang peran. 

Suamiku dulu anak pertama, jadi terbiasa mengurus adik-adiknya. Ibu nya adalah orang tua tunggal, begitu cerita Milan.

Saya sendiri cukup tergelitik dengan fenomena stay at home husband. Dari tulisan tirto.id di tahun 2017, terbaca bahwa menjadi bapak rumah tangga bukanlah hal tabu lagi. Semakin tahun, prosentasinya semakin meningkat. Sebagian menyatakan alasan feminisme, dimana merupakan bagian dari dukungan para suami atas prestasi karir sang istri.

Setali tiga uang dengan hal tersebut, saya tergelitik dengan iklan yang diperankan Dinda Haw dan Rey Mbayang berupa produk sabun bayi. Disitu diceritakan kegalauan si ibu karena pulang kerja larut (malam) dan harus kembali bekerja esok pagi. Namun pasangan tersebut masih memiliki momen memandikan anak bersama.

So true, si istri yang sibuk bekerja di luar rumah. Sedang suami bekerja dari rumah. Kalau menengok mereka pasangan artis, bisa jadi benar. Sang suami punya studio musik di rumah, jadi bisa stay at home lebih lama, yekaan. 

Apalagi belakangan, saat masa depan datang lebih cepat. Berbagai hal bisa dilakukan dari rumah. 

Dalam agama Islam yang saya yakini, bahwa suami adalah pencari nafkah utama. Sedangkan pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama. Apabila pendapatan istri lebih besar, sesungguhnya tak mengapa, asal kembali pada cita-cita pernikahan, sakinah-mawaddah wa rahmah.

Aamiin.


Comments

popular post

Seminar Nasional Statistik 2009

Merencanakan Pendidikan Anak Sejak Dini, Perlukah ?