Friday, October 5, 2018

Misteri Batuk Pilek yang Sering Melanda Bumil

gambar

Setelah berhasil melewati masa mual dan enek di tiga bulan pertama kehamilan ditandai dengan sukses menjalankan ibadah Ramadhan dengan hanya bolong dua hari saja, saya sangat berharap drama kelelahan dan kepayahan berakhir. Tibalah saat menjadi bumil yang bahagia. Eh ternyata kenyataan tidak seindah keinginan.

Paska libur lebaran, pak bos langsung intruksi, bulan depan meeting ke Jogja ya! Saya mengangguk mantap. Wiih bakalan kerja sambil liburan dong. Asyek! Kemudian saat memandang perut yang makin membuncit jadi ragu, kuat tidak ya dengan perjalanan Pekalongan- Jogja selama 4-6 jam dengan usia kehamilan 5 bulan. Yang penting suami ngijinin sih oke aja lah.

Kesibukan kerja dan membersamai Keenan memasuki dunia baru, dunia sekolah dasar  sangat menyita tenaga, meski tetap menyenangkan. Keenan di usianya menjelang tujuh tahun itu masih dengan pola pikir polos nan lugu. Banyak cerita yang dia bawa baik dari pulang sekolah atau main ke rumah teman yang membuat saya terpingkal-pingkal.
Misalnya:
"Bunda tahu ga mainan yang kayak ayam goreng. Tadi aku mainan itu di sekolah. Rame."
Si emak mikir sambil sarapan.
"Bunda tahu ga? Mosok ga tahu, itu lo..yang pake bola..Punyaku udah pada ilang"
Si emak masih mikir, apa ya? Gotcha! "Bowling kan, yang bentuknya begini?" Sambil meragain bentuk pin bowling."
"Oh itu namanya bowling ya, Bun?"
Ealah, kirain dari tadi main tebak-tebakkan, ternyata emang ga tahu namanya.Doong!

Bagian tidak nyaman kedua setelah mual dan enek adalah batuk pilek menyiksa di usia kehamilan 5 bulan. Wohoooo dahsyat, tiga minggu gaes! Bawaan janin tuh, entar sembuhnya kalau bayi dah lahir. Begitu pendapat banyak orang saat mendapati seorang ibu hamil mengalami batuk pilek yang tak kunjung sembuh. Terlepas benar tidaknya, secara medis kondisi kehamilan dengan perubahan hormonal dalam tubuh ibu memang salah satunya menurunkan daya tahan tubuh. Ibu hamil lebih rentan terkena penyakit.

Bermula dari Keenan yang terkena batpil, kemudian nular ke emaknya... Nikmatnya perut berguncang, sampai BAK sulit dikendalikan.Walhasil setiap saat pakai pembalut huhuhu.  Jadilah tidur tidak nyaman. Padahal tanpa batuk saja, punggung dan pinggang terasa sakit untuk berbaring, ini ketambahan batuk. Segala macam obat sudah dicoba, mulai dari obat apotek, obat dokter, madu, sari kurma, habbatusauda, jahe, jeruk nipis, hingga kencur. Dasar belum mau punah, memasuki minggu ketiga batuk mulai terkendali, BAK sudah bisa dikendalikan, gantian rongga dada yang sakit. Entah karena batuk atau rahim yang semakin besar, rasanya sakit sekali saat batuk  mengguncang.

Rencana Allah selalu baik, lokadi meeting dipindahkan ke Pekalongan. Yeay, alhamdulillah. tak perlu packing luar kota berarti. Dengan kondisi batuk pilek, warna suara macam Iga Mawarni, rasanya adegan bepergian ke Jogja bukan favorit lagi. Well, persiapan meeting tetap saja menguras tenaga dan pikiran. Dan bisa ditebak sepanjang hari itu, batuk berkepanjangangan mengalun dari mulut ini... Malu? enggak juga, emang lagi batuk gimana lagi.

Memasuki bulan keenam kehamilan, berat badan saya hanya naik 4 kg.Kurus? Iyes! Kan pas bulan usia kandungan dua hingga tiga bulan turun sampai 3 kg. Bidan sih nyaranin minum susu pada pagi dan malam hari. Makan dibanyakin. Udah, Buk! Emang dasar kite setelannya kuyus.

Ada satu hal lagi yang maha serius. Saat hormon kehamilan sebegitu mempengaruhi keseimbangan emosi dan lahiriah saya, ada hal lain yang nyaris membuat langkah saya memutar balik. Allah Maha Baik menuntun dan menunjukkan ada banyak hal indah yang harus saya syukuri.

Be happy mommy :-)

No comments:

Post a Comment