Skip to main content

Posts

Kecintaan pada Buku

Apa alasan kamu membaca buku? Kalau saya, yang pertama karena suka dan yang kedua karena butuh. Yang jelas sih bukan karena ingin gaya pegang buku setebel bantal, hehe. Iya, sejak sekolah dasar saya sangat menikmati duduk di samping rumah sambil membaca buku cerita anak. Tentu bukan buku milik saya, melainkan pinjam dari kerabat atau tempat persewaan buku. Bagian menyenangkan dari membaca buku adalah, saya bisa leluasa berimajinasi atas narasi atau cerita yang dibuat penulis. Hal ini berbeda dengan menonton film, dimana saya sebagai penonton secara tidak langsung dipaksa untuk mematuhi alur dan plot kisah yang tersaji dalam deretan adegan. Itu kenapa saya tidak terlalu menyukai film yang diadaptasi novel. Bukan tentang kualitas filmnya, tapi detil cerita dalam film biasanya tidak presisi seperti novel. Memang tidak mudah memindahkan ratusan halaman novel menjadi adegan film dalam 90 menit saja. Salah satu film adaptasi novel yang saya suka adalah Da Vinci Code. Kenapa? Karena saat meno

Misteri Batuk Pilek yang Sering Melanda Bumil

gambar Setelah berhasil melewati masa mual dan enek di tiga bulan pertama kehamilan ditandai dengan sukses menjalankan ibadah Ramadhan dengan hanya bolong dua hari saja, saya sangat berharap drama kelelahan dan kepayahan berakhir. Tibalah saat menjadi bumil yang bahagia. Eh ternyata kenyataan tidak seindah keinginan. Paska libur lebaran, pak bos langsung intruksi, bulan depan meeting ke Jogja ya ! Saya mengangguk mantap. Wiih bakalan kerja sambil liburan dong. Asyek! Kemudian saat memandang perut yang makin membuncit jadi ragu, kuat tidak ya dengan perjalanan Pekalongan- Jogja selama 4-6 jam dengan usia kehamilan 5 bulan. Yang penting suami ngijinin sih oke aja lah. Kesibukan kerja dan membersamai Keenan memasuki dunia baru, dunia sekolah dasar  sangat menyita tenaga, meski tetap menyenangkan. Keenan di usianya menjelang tujuh tahun itu masih dengan pola pikir polos nan lugu. Banyak cerita yang dia bawa baik dari pulang sekolah atau main ke rumah teman yang membuat saya terpin

Euforia Asian Games 2018

                Sesaat setelah menonton acara   Opening Ceremony Asian Games 2018   yang maha megah itu, memang berasa euforia nya. Kemudian diikuti rentetan  pertandingan cabang olahraga tayang di beberapa   stasiun televisi. Meski tidak mengikuti satu persatu, setidaknya cabor sepakbola, badminton, voli dan atletik yang   menarik perhatian saya. Maksudnya, cuma cabang olah raga itu yang saya paham perhitungan skornya sehingga tahu mana yang menang mana yang kalah.   Sepak takraw? Nyerah deh, hehe…Oh iya, sempat lihat panjat dinding dan selebrasi pasangan suami-istri cabor pencak silat yang mendapat medali emas. How lucky , ya.                 Perolehan medali pun tak kalah keren dari Opening Ceremony . Dari peringkat   17 di Asian Games 2014, Indonesia melompat ke peringkat 4 dengan perolehan medali 98 buah yang terdiri dari   medali emas 32, medali perak 24 dan medali perunggu 43. Jempol empat! Nampak juga bintang-bintang olahraga baru yang menjadi trending topic seperti:  

Menghalau Galau pada Tri Semester Pertama

gambar Kehamilan yang kedua ini membuat saya mengoreksi ulang banyak hal tentang memandang orang lain beserta kebiasaan dan cara berpikirnya. Saya (seringkali) menganggap aneh orang yang bertindak, bersikap atau berkata yang berbeda dengan saya. Aneh, begitu label yang saya sematkan kepada orang   lain tersebut. Sederhana saja misalnya, teman sebelah ruangan kalau ketawa kenceeeeng pisan plus bergulung-gulung. Apa sih, namanya untuk ketawa yang mirip suara woody woodspecker gitu. Atau temen yang superlemot ketika di minta mengerjakan suatu tugas, idiiih dulu kuliah dimana sih… Sarkasme yah! Well kembali ke bahasan tentang kehamilan kedua ini, yang sungguh berbeda dengan delapan tahun lalu. Mungkin menjadi tidak istimewa bagi   ibuk-ibuk yang hamil hingga lebih dari empat kali. Dah hafal kali ya,   secara saya baru kali kedua, jadi cenderung membanding-bandingkan. Baca kisah awal  proses kehamilan Pada tiga bulan pertama, saya mengalami mabuk berat. Bukan dalam hal munta

Khitan Anak, Kapan Usia yang Tepat?

Sejak tiga bulan terakhir saya mulai rajin browsing usia berapa yang tepat untuk mengkhitankan anak. Tak satupun saya menemukan rekomendasi pilihan usia yang tepat. Lebih pada kesiapan anak dan orang tua, simpul saya. Semenjak lama,  saya memang merencanakan mengkhitankan anak pertama sebelum masuk sekolah dasar. Pertimbangan saya sederhana, kids jaman now semakin cepat proses baligh-nya.  Jika dahulu usia baligh kisaran usia 12 tahunan atau kelas 6 SD. Sekarang  sudah banyak anak perempuan maupun laki-laki mengalami proses balighnya pada usia 9-10 tahun. Gayung pun bersambut saat Keenan yang masih berusia tiga tahun bertanya apa itu khitan karena menonton tayangan Upin Ipin. “Supaya tidak gatal, itu dipotong sedikit.” Ketika usia dua tahun Keenan memang kadang merasa gatal  entah karena digigit semut atau bermain tanah. Tidak parah sih, hanya rewel sesaat. Ternyata benar bahwa tontonan televisi tersebut sangat membekas di pikirannya. Karena seringnya diputar ulang, saya cu