Sunday, January 15, 2017

Anda kenal TAHIR ?

Anda kenal TAHIR ? 
Enggak ? Sama :-)
Libur saatnya beberes rumah. Lebih tepatnya merapikan tumpukan buku dan kertas yang belum memiliki rak khusus (baca: suami belum jadi beliin rak buku, malahan beli rak diecast) . Kemudian menemukan 2 lembar Koran KONTAN edisi 29 September 2016 yang dulu sengaja saya simpan, untuk saya baca di kemudian hari. Astaga, lama pisan bacanya ! Haha enggak juga, sudah dibaca kapan itu, tapi masih ingin menyimpannya  karena beritanya bagus.
Liputan Khusus SAKSI MATA EKONOMI INDONESIA  yang menyajikan ulasan tentang salah dua tokoh sukses pengusaha Indonesia yaitu TAHIR dan HARY TANOE.

          #Dimulai dari TAHIR, dulu :
Dasar saya yang kudet, karena baru kenal  dan tahu nama Tahir setelah ada hibah 6 bus transjakarta bertuliskan TAHIR FOUNDATION disalah satu berita TV Nasional. Siapa  Tahir ?  Yang saya tahu Erick Tohir, pengusaha muda fenomenal yang berani  membeli  Intermilan. Kemudian beliau  muncul di beberapa media keterkaitan dengan hibah bus tersebut. Mulai ngeh juga, ternyata sang bos Mayapada Group. Jadi kantor bank baru diseberang  selatan alu-alun itu milik sang dermawan itu. Begitulah yang saya simpulkan hasil browsing tentang sosok Tahir.
Tercatat sebagai orang kaya ke-7 Indonesia dan 906 di dunia versi Forbes dengan nilai kekayaan  US$ 2,2 Milyar,  bisnisnya menggurita mulai sektor keuangan, ritel, rumah sakit, media dan properti.

Berhasil melewati 2 krisis yaitu tahun 1998 dan 2008  dengan gemilang. “Saya tidak pintar membuat kesalahan”, begitu ujarnya saat banyak yang menanyakan kunci keberhasilannya. Seperti saat krisis 1997-1998, saat banyak bank lain terdampak krisis, Bank Mayapada tetap anteng karena tidak memiliki banyak hutang valuta asing. Sehingga saat dollar AS melonjak, Bank Mayapada tetap aman. Begitupun saat  tahun 2008, Bank Mayapada justru kebanjiran dana. Momen tahun 2008 juga menjadi tonggal Tahir merambah bisnis healthcare yaitu mendirikan Rumah Sakit Mayapada dengan mengakuisisi RS Honoris.

Sedang dibidang property, Tahir tidak menempatkan diri sebagai pengembangan perumahan apalagi gedung atau ruko. Tahir mengambil lahan bisnis bidang rental income.  Tahir memilih membeli gedung yang sudah jadi, kemudian menyewakan ke pihak ketiga.
Cuma satu bisnis yang belum di masukinya, yaitu telekomunikasi. “Saya enggak ngerti, sudah banyak pemain besar,” katanya.
Memiliki 4 putri dan 1 putra  yang saat ini sudah diberi tugas tanggung mengurus sebagian perusahaan yang didirikannya. Tahir tak khawatir bisnisnya akan mengendur saat dikendalikan putra-putrinya. “Saya kasih kesempatan supaya mereka maju. Jika mereka membuat kesalahan , mereka akan belajar dari kesalahan itu.”

Belajar dari Tahir:
1.       Menjalankan bisnis yang dipahami.
2.       Memberi kesempatan anak dan orang-orang bertalenta untuk menunjukka kinerjanya.
3.       Berderma tak mengurangi pundi kekayaannya.


2 comments: