Saturday, February 11, 2017

Berdamai Dengan Masa Lalu.


Facebook itu madu sekaligus racun. Manis rasanya saat stalking status teman sehingga tahu aktivitasnya, namun menjadi racun saat waktu 2 jam terbuang untuk baca atau sekedar urun(bagi) jempol.
Selintas saja membaca status teman yang sedang terbang di atas pegunungan Alpen membuat mata saya berkaca. Asyiknya bisa tamasya keluar negeri. Scholarship atau bahkan bekerja disana. Ada beberapa teman yang berstatus  abdi negara pernah mencicipi hidup di luar negeri mulai dari cuma Singapura, Korea, Australia, Inggris , Swedia, Belanda hingga Perancis !

Ngiri ! Itu yang saya rasakan, kenapa dulu saya tidak  belajar TOEFL dan conversation lebih keras sehingga scholarship akan berpihak pada waktu saya masih bujang sehingga living abroad bukan sekedar mimpi. Sementara sekarang, saya terdampar di daerah pesisir pantai utara menyaksikan warga lokal menarikan canting diatas selembar kain. Warna-warni hasilnya sebagai salah satu kekayaan  budaya Indonesia, batik.

Pun kemarin baru saja create grup baru, Alumni SMP. Lebih dari 15 tahun tak pernah bertemu. Walau sedikit roaming, dapatlah saya cerita hidup dari teman-teman. Mulai dari ibu rumah tangga bermukim di Malaysia, abdi negara, karyawan pabrik, pejabat pemerintahan hingga wirausaha muda sukses. Masih bisa mengingat jelas seperti apa dahulu kala SMP dan seperti apa sekarang. Pintar secara akademis tidak selalu menjadi pejabat atau sukses materi. Bahkan anak  yang dulunya  pethakilan (usil) bisa mempunyai 5 toko seluler, rental mobil, warung makan, dan billiard&lounge ! Ajaibnya si bos muda ini gayanya masih sama seperti dulu, kocak.

Ngiri ! Itu yang saya rasakan.Ngiri pada jalan hidupnya yang terlihat mudah mendapatkan rezeki.
Kemudian saya menyesal, kenapa dahulu sibuk mencari kerja pada banyak perusahaan. Kenapa tidak berwirausaha seperti si teman ?

Saya berusaha memaafkan diri sendiri. Ada banyak kenapa yang saya tanyakan pada diri sendiri, melihat pencapaian orang lain. Membandingkan dengan pencapaian saya sendiri. Bukankah waktu tak mungkin diputar ulang selain untuk  sekedar melihat  kenangan ?
Saya memilih memaafkan diri sendiri dan  berdamai dengan masa lalu. Saat kuliah saya terlalu sibuk organisasi , jalan-jalan,dan hura-hura. Tidak saya siapkan jiwa wirasusaha sejak dini. Tidak saya siapkan kepantasan untuk mendapatkan sesuatu yang teman-teman saya dapatkan. Tentu mereka berusaha keras, kerja cerdas dan doa, sehingga mereka layak.

Senyum si balita Keenan beserta kecerewetannya dan pak suami yang hobi koleksi diecast adalah pencapaian saya sekarang. Ngantor dan ngebisnis batik menjadi episode  pilihan hidup.
Karena setiap orang menciptakan dan menjalani takdirnya sendiri-sendiri.
Ketaqwaan lah yang nilainya tertinggi.



6 comments:

  1. Setuju, tidak ada kata terlambat, dan definisi sukses itu berbeda untuk setiap individu :D Semangat terus ya Mbak :) dan salam kenal!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai mbak synta, suka dengan posting tentang yoga. Saya baru 2x ikut kelas yoga di kantor :-)

      Delete