Sunday, May 7, 2017

Tak Ada Gambarku Dalam IGmu

SERIAL JANU DAN SUKMA
Genre Fiksi

Tidak ada  gambarku dalam IG mu

Sebuah pesan whatsapp masuk bersamaan dengan alarm tanda sholat subuh berdering. Jika tinggal di rumah, ada masjid berjarak limapuluh meter yang suara muadzinnya cukup untuk membuat mata dan kuping bergerak-gerak. Aku memilih segera berwudhu dan mendirikan solat daripada membalas pesan yang hanya akan memperlama bertahan di tempat tidur. Waktu subuh pendek.

Dalam tengadah tangan ini , terselip doa untuk  ibunda tercinta dan juga seorang perempuan agar mau bersabar, menungguku.

Tidak adil! Itu komentar beberapa kawan, tentang  obsesi mengejar beasiswa dengan mengabaikan perasaan perempuan yang sudah sedemikian lama menunggu. Menyuruhnya untuk bersabar.  
Aku tidak memaksanya menunggu. Seperti halnya beberapa perempuan lain yang bertanya tentang ke jombloanku, aku jawab, I’m single nor jomblo. Agak sulit menjelaskan memang. Perempuan itu telah bersemayam di pojok relung hatiku sejak pertama bertemu, sejak awal masa kuliah. Persahabatan kami  begitu indah.   Tak pernah terucap secara lisan, karena aku khawatir akan berefek luka padaku, padanya , pada persahabatan kami dan sahabat lain.  Sudah banyak contohnya.  Sangat mudah menjadikan sahabat menjadi kekasih, namun tidak pernah mudah sebaliknya.

Sampai kemudian upacara wisuda menjadikan jurang pemisah kami. Rasa itu masih kusimpan rapi, sampai 5 tahun kemudian dia mempertanyakannya, saat aku minta ditemani ke Rinjani.  Masa itu sudah ada nama lain yang bertengger di barisan depan otak kananku. Perempuan mungil  serupa adikku yang rajin mengirim sarapan setiap pagi  ke depan kamar kos.

Rindu ini tak pernah padam kepadamu, tidak aku pelihara namun nyalanya alami, abadi. Celakanya aku belum siap dan belum berani menyatakan secara lugas. Perempuan butuh kepastian, begitu teman lain menasehati. Aku tidak pernah menyuruhnya menunggu, aku hanya bilang ingin sekolah dulu, yang lain kemudian. Tentu tidak kuceritakan, kenapa aku sedemikian terobsesi dengan sekolah ke luarnegeri. Ini adalah janjiku, nazarku yang terucap pada Ibu saat beliau  terbaring sakit. “Janu akan sekolah tinggi baru mencari perempuan seperti Ibu untuk menjadi pendamping.” Ibu tersenyum  dan mengangguk.  Jika ini akan mengecewakanmu, setidaknya aku tidak megecewakan Ibuku.

Cita-cita itu sedang aku jalani sekarang, bertahanlah setahun lagi, doaku dalam setiap sholat. Tidak pernah aku nyatakan langsung. Seandainya dia tahu.

personal IG of PJW
Hari ini aku ke Tanjung Aan bersama teman-teman. Kelak jika kau kesini lagi, kita berdua kesana ya..
WA kesekian yang jarang kubalas, meski sangat ingin.
Jika engkau disini akan kuajak menikmati sore cerah di Sidney Darling Harbour atau nonton konser Adele di ANZ Stadium.

Yang inipun hanya menjadi draft di hati.



Aku berharap dia bersabar menata rindu hingga nanti kami jumpa. Namun disaat bersamaan  aku tidak ingin memberinya banyak harapan. Semoga waktu dan kesempatan berpihak pada kami.

*
Sudah  30 menit Sukma mondar-mandir dalam kamar. Pakaian sudah rapi dengan  terusan panjang di padu celana gelap. Kerudung pink bertengger menutupi kepala. Sebuah topi rajut lebar berbunga merah sudah sedari tadi dipegangnya. Berkali-kali di tengoknya  scroll percakapan beberapa grup WA. Sekalinya menengok  personal message  pada Janu, belum ada balasan. Sudah jelas terbaca 20 menit lalu. Sejak kuliah disana, Janu  semakin jarang merespon pesan-pesan pribadinya. Namun jika di grup alumni, dia tetap ramai seperti biasa.

Rindu ini perih, gumamnya .
Diletakkan handphone dalam laci. Sukma memilih membawa kamera lomo kedalam tas ranselnya.



No comments:

Post a Comment