Saturday, March 10, 2018

Kembali ke Titik Awal




“Satu-satunya jalan dengan bayi tabung.” Begitu penjelasan dokter Sp.Og yang baru saya kenal dua bulan terakhir. Jawaban ini seperti petir ditengah mendung yang bergelanyut di akhir Januari. Benar, saat saya keluar ruangan dokter memang sedang hujan deras, sehingga suasana lebih dramatis. Apakah setelah itu saya nangis bombay? Alhamdulillah tidak. Meski jawaban dokter pasca tes HSG (hysterosalpingography) tersebut, sungguh diluar dugaan saya dan suami. Ketika saya tanyakan penyebab dari tersumbatnya kedua tuba falopi tersebut, dokter menjawab, “bisa jadi karena pijatan dukun bayi setelah melahirkan anak pertama. Karena tanpa dibantu pijatan, rahim akan kembali semula." 
Dorr! Jawaban dokter inilah yang justru membuat saya syok. Sebegitu entengnya jawaban tersebut. Sependek yang saya ingat, enam tahun lalu saya menggunakan dukun bayi hanya untuk merawat anak saya hingga 10 hari. Kenapa tidak 40 hari? Mahal! Asalkan pusar sudah lepas, sudah percaya diri lah memandikan bayi sendiri. Dan saya tidak melakukan pijat perut, hanya pijat biasa karena –ternyata- kelelahan alias badan puegel luar biasa justru setelah 2-3 hari pasca proses melahirkan normal. Saat itu saya sudah paham betul, bahwa rahim tak perlu dipijat.
 Bagi saya akan lebih masuk akal jika jawaban dokter lebih bersifat medis, misal infeksi, peradangan atau apalah namanya. Setidaknya jika ada indikasi medis, berarti ada obatnya kan? Sayangnya pak dokter menggeleng, meski kemudian tetap meresepkan antibiotik yang saya bayar setengah resep. Iya, antibiotik yang saya lupa namanya itu satu tablet Rp.15.000 dan diresepkan 25 hari. Aah saya ogah lah. Trauma aja dengan vocab antibiotik yang sering diresepkan dokter anak saat anak saya kena batuk pilek. Iih, para bapak ibu dokter yang hobinya memberi antibiotik kayaknya lulus dengan catatan deh.
Sekian hari setelah itu saya dan suami tidak membicarakan hasil HSG dan kunjungan ke dokter tersebut. Kami juga tidak membahas bagaimana dengan program hamil anak kedua ini yang intensif dilakukan enam bulan terakhir. Mungkin suami juga menjaga perasaan saya. Saya sendiri sibuk googling apasih tuba falopi non patent itu. Dari googling tersebut membawa saya tahu istilah operasi laparoscopy,yaitu operasi membuka perlengketan rahim atau saluran tuba. Berapa harganya? Tentu saja mehong, senilai tiket umroh berdua kayaknya.
Mungkin ini rasanya orang-mereka-yang belum memiliki keturunan. Sekian tahun menikah belum memiliki anak tentu bukan saja beban namun tekanan batin, apalagi jika ada acara keluarga. Duuuh beraat pasti. Dulu saya (sering) merasa kasihan kepada mereka-yang menurut saya- kurang beruntung.
Kini saya merasakan apa yang mereka rasakan. Betapa berusaha memiliki keturunan tidaklah mudah. Saya lebih beruntung karena sudah memiliki balita yang sekarang sedemikian cerewet bertanya kapan punya teman main. Alhamdulillah proses kehamilan pun cepat saat itu. Langsung jos!
Sampai pada titik saya berhenti. Saya berpikir. Secara tidak sadar bisa jadi saya telah berlaku sombong. Bahwa ada banyak kenikmatan Allah, namun cara bersyukur saya tidak kaffah. Allah sedang menguji saya dengan keinginan yang belum bertemu  takdir-Nya. Saya berusaha mengubah pola pikir yang terjadi. Demi memiliki keturunan lagi, saya ikhtiarkan rutin berkunjung ke dokter. Sayangnya saya lupa menghamba kepada-Nya. Saya alpa merayu-Nya dalam setiap doa. Sholat, puasa, sedekah masih menjadi rutinitas belaka. Saya harus kembali ke titik awal. Sebuah awal yang seharusnya dilakukan. Mendekatkan diri kepada yang Maha Hidup.  
Di sela-sela kerja awal tahun yang padat, dari sebuah artikel saya menemukan tulisan tentang pengobatan cara Rasululllah dengan bekam dan herbal sebagai salah satu solusi penyumbatan tuba falopi. Saya pun belajar tentang habbatussauda, madu dan minyak zaitun. Khasiat ketiganya tentu tidak diragukan karena disebutkan dalam Al Quran dan diriwayatkan hadist. Disaat bersamaan saya teringat seorang teman yang pernah bercerita pernah menjadi terapis bekam.
Pintu pun mulai terbuka. Ada selarik cahaya harapan baru yang terbit di dada. Si teman pun bercerita kalau sebelum memiliki keturunan, pernah mengalami masalah rahim. Terapi bekam dan herbal dilalui sampai kemudian memiliki 3 anak yang lucu-lucu.
Well, bismillah, semoga ikhtiar menurut thibunnabawi ini akan segera membuahkan hasil. Aamiin.



5 comments: